Cibitung (pilar.id) – Memperingati Hari Bumi, GreenTeams (PT Trusur Unggul Teknusa) bersama Ecoxyztem menggelar diskusi bertajuk “Peta Jalan Dekarbonisasi Industri di Indonesia: Strategi Menuju Net Zero 2050”, Rabu (23/4/2025) di MM2100 Office, Cibitung, Jawa Barat.
Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri dari 10 sektor yang wajib menerapkan Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Kontinyu (SISPEK).
Jaja Ahmad Subarja, Founder GreenTeams, menekankan pentingnya penggunaan teknologi pemantauan kualitas udara dan emisi secara transparan dan akurat. “Kami optimis dekarbonisasi industri Indonesia dapat dicapai melalui teknologi yang mendukung data valid, transparan, dan actionable,” ujarnya.
Diskusi dibuka oleh sambutan dari Dr. Winardi, M.Si., Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian; H. Darwoto, S.E., Deputy Director Kawasan Industri MM2100; serta Ir. Noor Rachmaniah, Kepala Pokja Pengendalian Pencemaran dan Mutu Kementerian Lingkungan Hidup.
Ir. Noor Rachmaniah juga mengapresiasi pemasangan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) di kawasan industri MM2100. Ia menambahkan, ke depannya akan dipasang minimal dua titik pemantauan tambahan berdasarkan arah angin, untuk memastikan efektivitas pengawasan dan transparansi data kualitas udara.
Menurut Sri Gadis Pari Bekti, Ketua Tim Dekarbonisasi Industri Kementerian Perindustrian, pemerintah sedang menyiapkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri yang akan dipublikasikan dalam AIGIS Summit 2 bulan Agustus mendatang. “Kami menargetkan Net Zero Emission Sektor Industri pada tahun 2050—sepuluh tahun lebih cepat dari target nasional,” tegasnya.
Diskusi yang dimoderatori jurnalis senior Amir Sodikin ini juga menghadirkan panelis Maria R. Nindita Radyati, Ph.D., Presiden Direktur Institute for Sustainability and Agility (ISA); Mohamad Bijaksana Junerosano, Tenaga Ahli Menteri KLHK; dan Ipa Teguh Akbar, National Sales Manager GreenTeams.
Hasil diskusi menegaskan bahwa keberlanjutan kini menjadi standar penting dalam rantai pasok global. Produk dengan kualitas tinggi sekalipun dapat ditolak pasar apabila memiliki jejak karbon yang besar. Hal ini menekankan pentingnya pengelolaan dampak lingkungan sejak awal proses produksi.
Forum ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antar sektor industri, pemerintah, dan masyarakat untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan. Peta jalan yang tengah disiapkan Kementerian Perindustrian menjadi langkah konkret menuju pencapaian target ENDC 2030 dan NZE Sektor Industri 2050. (adi/hdl)










