Jakarta (pilar.id) – Timnas Inggris gagal melanjutkan tren kemenangan di Piala Dunia 2026 setelah ditahan imbang tanpa gol oleh Ghana pada pertandingan kedua Grup L, Selasa (24/6/2026). Meski mendominasi penguasaan bola sepanjang laga, skuad The Three Lions kesulitan membongkar pertahanan rapat Ghana yang tampil disiplin selama 90 menit.
Hasil ini membuat Inggris tetap memuncaki klasemen sementara Grup L dengan koleksi empat poin, unggul selisih gol atas Ghana yang memiliki jumlah poin sama. Namun, performa yang ditunjukkan pasukan Thomas Tuchel memunculkan sejumlah catatan menjelang laga terakhir fase grup.
Inggris memasuki pertandingan dengan modal kemenangan 4-2 atas Kroasia pada laga pembuka. Thomas Tuchel melakukan sejumlah perubahan dalam susunan pemain dengan memasukkan Marc Guéhi dan Djed Spence sebagai starter menggantikan John Stones dan Nico O’Reilly.
Sejak awal pertandingan, Inggris mendominasi penguasaan bola dan berupaya mengontrol ritme permainan. Namun dominasi tersebut tidak berbanding lurus dengan efektivitas serangan. Ghana memilih bermain lebih bertahan dan mengandalkan organisasi pertahanan yang solid untuk meredam kreativitas lini depan Inggris.
Statistik pertandingan menunjukkan betapa sulitnya Inggris menciptakan peluang bersih. Tim baru mampu mencatatkan tembakan tepat sasaran pertama pada menit ke-57. Situasi ini membuat Tuchel harus melakukan sejumlah pergantian pemain untuk meningkatkan daya gedor tim.
Nico O’Reilly, Bukayo Saka, Eberechi Eze, Morgan Rogers, dan Marcus Rashford diturunkan secara bertahap dalam upaya memecah kebuntuan. Namun berbagai perubahan tersebut belum mampu menghasilkan gol yang dibutuhkan Inggris untuk mengamankan tiga poin.
Peluang terbaik Inggris hadir pada menit-menit akhir pertandingan. Sundulan O’Reilly sempat membentur mistar gawang Ghana, sementara Harry Kane yang mendapatkan bola rebound gagal mengonversinya menjadi gol setelah tendangannya melambung di atas gawang.
Penampilan Kane menjadi salah satu sorotan utama dalam pertandingan ini. Kapten Inggris tersebut terlihat kesulitan mendapatkan suplai bola dari lini tengah dan kerap terisolasi di lini depan. Sepanjang sebagian besar pertandingan, pergerakan Kane berhasil dipatahkan oleh lini belakang Ghana yang bermain disiplin.
Kane baru mendapatkan peluang emas pertamanya pada menit ke-85 ketika memanfaatkan bola muntah hasil sundulan O’Reilly yang membentur mistar. Momen tersebut menggambarkan minimnya kesempatan yang diperoleh penyerang Bayern Munchen itu sepanjang laga.
Di sisi lain, Ghana tampil dengan pendekatan pragmatis yang efektif. Tim berjuluk Black Stars itu tidak banyak memberikan ancaman ke gawang Inggris dan hanya melepaskan dua percobaan sepanjang pertandingan. Namun organisasi pertahanan yang solid membuat mereka mampu meredam dominasi lawan.
Ghana sempat melayangkan protes kepada wasit dalam dua momen penting. Pertama ketika kiper Inggris Jordan Pickford bertabrakan dengan Prince Adu, dan kedua saat Ezri Konsa melakukan tekel terhadap Adu di area penalti. Namun wasit memutuskan tidak memberikan kartu merah maupun hadiah penalti kepada Ghana.
Meskipun tidak tampil agresif dalam menyerang, hasil imbang ini menjadi modal penting bagi Ghana dalam persaingan menuju babak gugur. Tim asuhan Black Stars kini mengoleksi empat poin dan masih memiliki peluang besar untuk lolos dari Grup L.
Sementara itu, hasil pertandingan ini juga memunculkan pertanyaan terkait strategi Thomas Tuchel. Setelah mendapatkan pujian atas perubahan taktik yang berhasil membawa Inggris bangkit dan mengalahkan Kroasia pada laga pertama, kali ini keputusan pergantian pemain dan pendekatan permainan tidak memberikan dampak signifikan.
Masuknya Bukayo Saka dan Nico O’Reilly memang sempat meningkatkan intensitas serangan Inggris. Saka bahkan memaksa kiper Ghana Benjamin Asare melakukan penyelamatan penting. Namun secara keseluruhan, kreativitas lini tengah dan efektivitas serangan Inggris masih belum mampu menembus pertahanan lawan.
Tuchel kini menghadapi tantangan untuk menemukan formula terbaik sebelum laga penentuan di fase grup. Inggris masih berada di posisi teratas klasemen, tetapi performa melawan Ghana menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah, terutama dalam menghadapi tim yang memilih bermain defensif dan mengandalkan organisasi pertahanan yang rapat.
Bagi Ghana, hasil ini mempertegas identitas permainan mereka yang mengutamakan disiplin dan efisiensi. Meski minim penguasaan bola dan peluang, strategi tersebut kembali membuahkan hasil setelah sebelumnya juga meraih kemenangan tipis atas Panama pada pertandingan pembuka.
Persaingan Grup L pun dipastikan berlangsung ketat hingga pertandingan terakhir. Inggris berambisi mengamankan status juara grup, sementara Ghana akan menghadapi ujian berat melawan Kroasia dalam laga yang berpotensi menentukan nasib mereka di Piala Dunia 2026. (mad/hdl)








