Jakarta (pilar.id) – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) berbasis budaya melalui promosi, pemasaran, dan perluasan akses pasar bagi produk wastra serta kriya Nusantara. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan daya saing industri kreatif nasional sekaligus memperluas penetrasi produk lokal ke pasar internasional.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Pameran Swarna Wastra Nusantara (SWN) 2026 yang mengusung tema Tenun dan Produk Kriya Lintas Zaman. Kegiatan ini menjadi ajang promosi bagi pelaku usaha wastra dan kriya sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dan pelaku bisnis.
Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Loemongga Kartasasmita, menilai produk wastra Indonesia memiliki peluang besar di tengah berkembangnya tren fesyen berkelanjutan atau slow fashion yang kini semakin diminati konsumen global.
Menurut Loemongga, karakteristik wastra Nusantara yang diproduksi secara tradisional, menggunakan bahan alami, dan mengandung nilai budaya tinggi menjadi keunggulan yang sulit ditiru oleh produk massal. Faktor tersebut membuat produk wastra tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki makna budaya yang kuat dan relevan dengan kebutuhan pasar modern yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.
Tren Fesyen Berkelanjutan Dorong Peluang Wastra Indonesia
Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk ramah lingkungan, wastra Nusantara dinilai memiliki posisi strategis untuk bersaing di pasar internasional. Berbagai produk seperti tenun, songket, dan batik diproduksi melalui proses yang relatif panjang, namun menghasilkan kualitas tinggi dengan daya tahan yang baik.
Loemongga menegaskan bahwa kekuatan utama wastra Indonesia terletak pada perpaduan antara nilai budaya, keterampilan tradisional, dan keberlanjutan produksi. Karena itu, promosi yang berkelanjutan dinilai penting agar produk-produk tersebut semakin dikenal dan diapresiasi oleh pasar global.
Selain sektor wastra, industri kriya nasional juga menunjukkan perkembangan positif. Data Kemenperin mencatat nilai ekspor industri kerajinan pada Triwulan I 2026 mencapai USD165,27 juta atau meningkat 4,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa produk kriya Indonesia semakin mampu bersaing dan memperoleh kepercayaan di pasar internasional. Berbagai produk berbasis kerajinan tangan, dekorasi, aksesori, hingga produk berbahan alam terus mendapatkan ruang di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk kreatif bernilai budaya.
SWN 2026 Jadi Etalase Produk Unggulan IKM Berbasis Budaya
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menjelaskan bahwa Pameran SWN 2026 menghadirkan 45 IKM unggulan yang bergerak di sektor tenun, songket, batik, aksesori, dan berbagai produk kriya dari berbagai daerah di Indonesia.
Para peserta merupakan binaan kementerian, lembaga, BUMN, Dekranas, Dekranasda, serta pemerintah daerah yang selama ini aktif melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha berbasis budaya.
Pameran yang berlangsung pada 9–11 Juni 2026 di Plasa Industri Kementerian Perindustrian, Jakarta, dirancang dengan konsep modern dan inklusif. Selain menjadi sarana promosi, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi bisnis, memperluas jaringan pemasaran, serta mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dan investor potensial.
Reni menyebut SWN 2026 merupakan bagian dari rangkaian pembinaan menuju Hari Ulang Tahun Dekranas ke-46 yang akan digelar di Makassar pada Juli 2026. Berbagai program penguatan kapasitas pelaku IKM telah dilakukan, mulai dari diversifikasi produk kerajinan di Cirebon, pengembangan sentra bambu di Hulu Sungai Selatan, inovasi keramik tableware di Bandung, hingga pelatihan diversifikasi produk tenun di Kediri.
Regenerasi Perajin Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Kreatif
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menilai pengembangan industri berbasis budaya tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga memiliki nilai edukasi yang penting bagi generasi muda.
Menurutnya, pameran seperti SWN 2026 menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan berdampingan untuk menghasilkan produk yang bernilai budaya sekaligus memiliki daya saing ekonomi.
Budi menekankan bahwa regenerasi perajin dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri kreatif nasional. Tanpa keterlibatan generasi muda, warisan budaya yang selama ini menjadi identitas bangsa berisiko kehilangan kesinambungannya.
Untuk mendukung upaya tersebut, SWN 2026 juga menghadirkan berbagai Workshop Kreasi Wastra yang berlangsung selama pameran. Program ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal proses kreatif pengolahan wastra Nusantara sekaligus memahami potensi ekonomi yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, Direktur Mediatama Event, Umi Noor Wijiati, berharap penyelenggaraan SWN 2026 mampu meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk wastra dan kriya Indonesia. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diajak mengenal lebih dekat kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga didorong untuk menggunakan dan mendukung produk karya anak bangsa.
Dengan dukungan pemerintah, pelaku industri, komunitas perajin, serta masyarakat, wastra dan kriya Nusantara dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari ekosistem industri kreatif global yang mengedepankan keberlanjutan, nilai budaya, dan inovasi.
Keyword
Kemenperin, wastra Nusantara, industri kriya Indonesia, Dekranas, Swarna Wastra Nusantara 2026, ekspor kriya Indonesia, fesyen berkelanjutan, IKM Indonesia, tenun Nusantara, industri kreatif berbasis budaya










