Jakarta (pilar.id) – Primaya Hospital Kelapa Gading memperkuat layanan jantung dan pembuluh darahnya dengan menghadirkan teknologi MitraClip, sebuah prosedur minimal invasif untuk menangani kebocoran katup mitral atau mitral regurgitation (MR). Inovasi ini menjadi alternatif bagi pasien yang memiliki risiko tinggi menjalani operasi jantung terbuka, sekaligus membuka akses terhadap terapi jantung berteknologi modern di Indonesia.
Kehadiran layanan tersebut ditandai dengan keberhasilan pelaksanaan prosedur MitraClip perdana di lingkungan Primaya Hospital Group melalui kegiatan bertajuk Live Case: A New Milestone in Cardiac Innovation – The First MitraClip Procedure at Primaya Hospital. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan jantung struktural yang semakin dibutuhkan masyarakat seiring meningkatnya kasus penyakit kardiovaskular.
Kebocoran Katup Mitral Masih Menjadi Ancaman Serius
Kebocoran katup mitral merupakan kondisi ketika katup jantung tidak dapat menutup secara sempurna sehingga darah mengalir kembali ke ruang jantung yang seharusnya. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal jantung dan menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan.
Data medis menunjukkan prevalensi kebocoran katup mitral tingkat sedang mencapai sekitar 6,3 persen, sedangkan kasus berat berkisar 1,7 persen. Risiko kematian pada pasien dengan kebocoran katup berat juga tergolong tinggi dan dapat meningkat secara signifikan dibandingkan individu tanpa gangguan katup jantung.
Namun, tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ini adalah keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru mencari pertolongan medis setelah mengalami gejala berat seperti sesak napas saat beraktivitas, mudah lelah, atau pembengkakan pada tungkai. Padahal, kondisi tersebut sering kali menandakan fungsi jantung sudah mulai menurun.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi sekaligus Konsultan Aritmia Primaya Hospital Kelapa Gading, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menilai kesadaran masyarakat terhadap gejala awal kebocoran katup jantung masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, pemeriksaan dini sangat penting agar pasien mendapatkan terapi yang tepat sebelum terjadi kerusakan fungsi jantung yang lebih berat.
MitraClip Jadi Solusi bagi Pasien Berisiko Tinggi
Dalam prosedur perdana tersebut, tim dokter menangani pasien berusia 72 tahun yang mengalami kebocoran katup mitral berat dan telah beberapa kali mengalami gagal jantung. Pasien tersebut juga memiliki fungsi pompa jantung yang hanya sekitar 25 persen, sehingga risiko menjalani operasi jantung terbuka dinilai sangat tinggi.
MitraClip dipilih sebagai solusi karena prosedurnya dilakukan tanpa membuka rongga dada. Dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah di area lipat paha untuk menempatkan alat berbentuk klip pada katup mitral yang bocor. Teknologi ini membantu memperbaiki fungsi katup sehingga aliran darah kembali lebih optimal.
Dibandingkan operasi konvensional, prosedur MitraClip menawarkan sejumlah keunggulan, mulai dari risiko komplikasi yang lebih rendah, waktu tindakan yang lebih singkat, hingga masa rawat inap yang relatif pendek, yakni sekitar dua hingga tiga hari. Pasien juga berpeluang kembali beraktivitas lebih cepat setelah menjalani tindakan.
Menurut Prof. Yoga, teknologi ini sangat bermanfaat bagi pasien dengan functional mitral regurgitation, yaitu kebocoran katup yang muncul akibat gangguan fungsi jantung, bukan karena kerusakan struktur katup. Selama ini kelompok pasien tersebut memiliki pilihan terapi yang terbatas karena tingginya risiko pembedahan.
Perkuat Layanan Jantung Berstandar Internasional
Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Ferry Aryo, MARS, MM, MH, C.Med, CPM, FISQua, menjelaskan bahwa kehadiran MitraClip merupakan bagian dari upaya rumah sakit menghadirkan layanan jantung komprehensif dengan standar internasional.
Menurut dr. Ferry, pengembangan layanan tersebut didukung fasilitas cathlab modern, tim multidisiplin, serta tenaga medis berpengalaman yang mampu menangani berbagai kasus jantung kompleks. Dengan hadirnya teknologi ini, masyarakat Indonesia diharapkan dapat memperoleh akses terhadap terapi jantung mutakhir tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri.
Pelaksanaan prosedur MitraClip perdana juga melibatkan kolaborasi dengan pakar jantung struktural dari Ramathibodi Hospital, Mahidol University, Thailand. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari transfer pengetahuan dan penguatan kompetensi tenaga medis dalam pengembangan layanan jantung modern di Indonesia.
Melalui inovasi ini, Primaya Hospital Kelapa Gading menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan teknologi medis terkini yang mampu meningkatkan kualitas hidup pasien. Kehadiran MitraClip sekaligus memperkuat posisi rumah sakit sebagai salah satu pusat layanan jantung modern dengan pendekatan minimal invasif yang terus berkembang di Indonesia. (ret/hdl)










