Jakarta (pilar.id) — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mengakselerasi penanganan titik kemacetan kronis di ibu kota. Langkah strategis ini salah satunya direalisasikan melalui proyek pembangunan Flyover Latumenten di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Infrastruktur ini dirancang khusus untuk memisahkan arus kendaraan dari perlintasan sebidang kereta api guna menciptakan kelancaran mobilitas di area tersebut.
Saat melakukan peninjauan langsung di lokasi konstruksi pada Kamis (2/7), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa proyek ini merupakan infrastruktur prioritas yang sangat dinantikan oleh masyarakat.
Tingginya volume kendaraan pada jam sibuk memicu kepadatan yang mengular hingga kawasan Pluit dan Slipi. Karena itu, intervensi rekayasa struktur fisik dinilai menjadi solusi paling krusial untuk mengurai sumbatan lalu lintas di salah satu urat nadi Jakarta Barat tersebut.
Progres Konstruksi dan Alokasi Anggaran
Berdasarkan hasil evaluasi di lapangan, Gubernur Pramono Anung menyatakan bahwa realisasi pembangunan berjalan positif dan sesuai dengan linimasa yang direncanakan. Saat ini, progres fisik pengerjaan konstruksi terintegrasi rancang dan bangun tersebut telah menyentuh angka 55,2 persen.
Proyek vital penunjang konektivitas kota ini menelan dana anggaran sebesar Rp259 miliar. Dengan sisa waktu pengerjaan sekitar lima bulan ke depan, jajaran eksekutif DKI memproyeksikan struktur jembatan layang ini dapat rampung sepenuhnya pada 15 Desember 2026. Target tersebut dipasang agar masyarakat dapat segera merasakan dampak langsung berupa penurunan durasi kemacetan di kawasan Grogol menjelang pergantian tahun.
Integrasi Transportasi Massal Berkonsep TOD
Pembangunan di koridor Latumenten tidak hanya berfokus pada kelancaran kendaraan pribadi, melainkan diintegrasikan dengan pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD). Di bawah struktur jembatan, Pemprov DKI membangun Halte Transjakarta baru yang terhubung langsung secara fisik dengan Stasiun Grogol. Langkah integrasi moda ini diambil untuk mempermudah perpindahan penumpang antarmoda sekaligus menstimulasi warga agar beralih ke transportasi publik.
Selain aspek transportasi massal, fasilitas penunjang pejalan kaki berupa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) turut dibangun secara simultan. Infrastruktur penyeberangan ini dirancang dengan mengadopsi prinsip inklusivitas dan aksesibilitas penuh.
Struktur JPO dibuat ramah bagi kelompok rentan, mulai dari penyandang disabilitas, warga lanjut usia, ibu hamil, hingga anak-anak, guna menjamin aspek keselamatan saat mengakses simpul-simpul transportasi di sekitar Latumenten.
Spesifikasi Teknis dan Rekayasa Lalu Lintas
Secara teknis, Flyover Latumenten dibagi menjadi dua struktur bentang jembatan yang disesuaikan dengan arah arus kendaraan. Jembatan layang yang mengarah ke Slipi dibangun sepanjang 435 meter dengan lebar 11 meter. Struktur ini menyediakan kapasitas dua lajur untuk kendaraan umum serta satu lajur khusus koridor busway.
Sementara itu, untuk bentang layang yang mengarah ke Grogol memiliki spesifikasi panjang sedikit berbeda, yakni 420 meter, namun tetap mempertahankan lebar 11 meter dengan konfigurasi lajur serupa—dua lajur umum dan satu lajur Transjakarta.
Dinas Bina Marga DKI Jakarta bersama kontraktor pelaksana berkomitmen penuh menjaga standar kualitas struktur dan keselamatan kerja selama proses percepatan pembangunan ini berjalan. Mengingat pengerjaan fisik di lapangan berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan, sejumlah skema penyesuaian rekayasa lalu lintas akan diberlakukan secara dinamis di sekitar area proyek. Masyarakat diimbau untuk senantiasa mematuhi rambu-rambu petunjuk, waspada saat melintas, serta mengikuti instruksi petugas demi keselamatan bersama. (usm/hdl)










