Jakarta (pilar.id) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyambut positif langkah strategis Kementerian Keuangan yang kembali mengalokasikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke kantong Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan ini dinilai menjadi angin segar untuk memperkuat likuiditas sektor perbankan nasional.
Langkah penempatan kembali likuiditas ini dilakukan setelah Kementerian Keuangan sempat menarik dana yang berada di Himbara untuk dikembalikan ke Bank Indonesia (BI).
Dalam rencana terbaru, pemerintah bersiap mendistribusikan dana segar dengan nilai total mencapai sekitar Rp380 triliun kepada lima bank pelat merah, yakni BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, dan BSI.
Menjaga Likuiditas dan Optimalisasi Fungsi Intermediasi Perbankan
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa alokasi dana SAL ini merupakan instrumen penting untuk memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal di tengah dinamika pasar. Tambahan modal ini diproyeksikan mampu memperkuat kapasitas pembiayaan industri dalam menyokong target pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Hery Gunardi, sinergi yang kuat antara otoritas fiskal dan industri perbankan menjadi fondasi utama dalam memelihara stabilitas sistem keuangan domestik. Tambahan likuiditas dalam jumlah besar tersebut diyakini akan mempertemukan kapasitas bank dengan permintaan pembiayaan yang sehat dari para pelaku usaha.

Meskipun mendapatkan suntikan dana yang masif, manajemen emiten bersandi saham BBRI ini menegaskan tidak akan gegabah dalam menyalurkan kredit. BRI berkomitmen penuh untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudence) serta penerapan manajemen risiko yang ketat di setiap lini.
Fokus Penyaluran Kredit Selektif untuk Sektor UMKM dan Riil
Sejalan dengan basis bisnis utamanya, BRI akan mengarahkan pemanfaatan likuiditas baru ini secara selektif ke sektor-sektor produktif, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kebijakan penyaluran modal tersebut didasarkan pada penilaian kualitas kredit serta kebutuhan riil yang berkembang di segmen pasar bawah.
Hingga periode Maret 2026, total pembiayaan yang telah digelontorkan oleh BRI secara bank only tercatat menembus angka Rp1.358 triliun. Mayoritas dari total portofolio kredit tersebut mengalir langsung ke sektor UMKM dan industri riil yang bersentuhan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ke depan, BRI berkomitmen mengambil peran lebih aktif sebagai motor penggerak pembiayaan produktif yang memiliki dampak berganda (multiplier effect). Fokus intervensi kredit akan diprioritaskan pada sektor usaha yang terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak produktivitas, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Strategi Memperkuat Dana Murah Lewat Ekosistem Digital
Guna menyeimbangkan akselerasi penyaluran kredit produktif tersebut, manajemen BBRI juga tengah menyiapkan strategi penguatan struktur modal internal. Langkah ini ditempuh melalui upaya intensif untuk menggenjot perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Target utama korporasi difokuskan pada peningkatan porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Untuk merealisasikan target perolehan dana murah tersebut, BRI mengandalkan penguatan fungsi ekosistem digital perseroan guna memberikan kemudahan bertransaksi sekaligus memperluas penetrasi pasar di seluruh wilayah Indonesia. (ret/hdl)










