Jakarta (pilar.id) – Pandemi Covid-19 yang mengguncang dunia dua tahun terakhir pada gilirannya justru membuat ekosistem digital semakin tumbuh dan menjadi bagian yang cukup erat di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Termasuk kehadiran teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan berbelanja masyarakat termasuk di Indonesia. Teknologi digital memberikan kemudahan bagi pembeli untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan tanpa harus keluar rumah.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan tren baru bernama Shoppertainment. Yakni, ketika berjualan di dunia digital bisa dilakukan dengan lebih komunikatif melalui live streaming. Bahkan tren Shoppertainment tersebut masih terus bertahan dan tumbuh saat Pandemi Covid-19 mulai mereda dan resesi justru datang menghampiri perekonomian dunia.
Shoppertainment pada gilirannya, tak hanya sebatas jadi sarana bertemunya penjual dan pembeli secara daring. Tetapi juga menjelma menjadi hiburan tersendiri. Penjual, tidak saja menunjukkan dagangannya melalui rekaman video live, tetapi juga melakukan berbagai hal yang juga menghibur para penontonnya.
“Justru di tengah resesi orang-orang butuh hiburan, mereka akan memutuskan untuk menjauhi toko-toko. Ini yang membuat shoppertaintment masih tetap akan jadi tren,” kata Penasihat Indonesia E-Commerce Association (idEA), Ignatius Untung di Jakarta, Selasa (22/11/2022).
Terus tumbuhnya tren Shoppertaintment di Indonesia juga tercermin dalam laporan berjudul Shopperaintment: APAC’s Trillion-Dollar Opportunity dari Boston Consulting Group (BCG) serta media sosial TikTok.
Tercatat tren itu telah membantu pertumbuhan bisnis sebuah jenama hingga 63 persen di Indonesia dan dua negara Asia lainnya yakni Jepang serta Korea Selatan.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa tren shoppertainment menjadi relevan saat ini karena bisa menyentuh hubungan fungsional dan emosional.
Dengan demikian pelanggan dan jenama bisa memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan dengan skema penjualan dan pembelian di masa sebelum pandemi.
Hal itu dikarenakan konten shoppertainment tidak menjual produk-produk secara langsung dan justru memberikan hiburan ataupun edukasi baru bagi pelanggan.
Dengan demikian, secara alami pelanggan justru akhirnya tertarik membeli produk terkait dari konten hiburan maupun edukasi itu.
Umumnya shoppertainment dilakukan di media sosial, namun dengan berkembangnya teknologi kini platform e-commerce pun sudah mulai mengadopsinya.
Hal serupa diperkirakan masih akan bertahan di tengah potensi resesi terutama karena secara sadar orang-orang menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan.
Salah satu cara adalah dengan masyarakat secara sengaja menghindari lokasi-lokasi seperti toko-toko fisik untuk menekan biaya konsumsi.
“Nah kondisi ini menjadi sebuah opportunity bagi pelaku UMKM karena bisa berjualan di tempat yang tidak dihindari seperti media sosial,” ungkap Untung. (fat)










