Surabaya (pilar.id) – Tak kalah dengan kota besar lain di Indonesia, Surabaya juga menyimpan banyak potensi budaya yang luar biasa. Sederet nama lahir dari Kota Pahlawan ini. Seperti Gombloh, Franky Sahilatua, hingga Agus Koecink.
Pria yang memiliki nama lahir Agus Sukamto ini dikenal sebagai pegiat seni rupa yang setia dijalurnya. Lahir di Tulungagung, 31 Desember 1967, ia aktif melahirkan karya-karya gemilang dari studionya di Desa Laban Kulon, Menganti, Gresik.
Koecing, begitu ia akrab disapa, pernah aktif sebagai Ketua Jurusan Seni Rupa Murni STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika Surabaya), staf pengajar STKW, kontributor Majalah Visual Arts Jakarta Area Jawa Timur dan Pengajar Luar Biasa VCD Universitas Ciputra.
Ia berturut-turut pernah mendapatkan beasiswa residensi di Museum De Rouen dari Pemerintahan Prancis pada tahun 2010 dan 2011 hingga 2014. Ia juga meraih beasiswa S2 dari DIKTI Jakarta pada 2005, dan Beasiswa Penelitian Budaya dan workshop Kajian post kolonial selama 1 tahun dari Ford Foundation dan Realino Jogyakarta (2004).
Tahun 2016, Agus Koecing mendapat Penghargaan Walikota Surabaya Sebagai Seniman Berprestasi Surabaya, lalu 2018 memperoleh Penghargaan Gubernur Jawa Timur Bidang Kreator Seni Rupa.
Sebagai seniman, Agus Koecing dikenal sebagai sosok yang produktif. Tahun 2009 membuat project seni di Forum Performance Art Internasional ‘X-Change ‘09’ CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis) Surabaya, lalu 2009-2012 karya-karya seni gambarnya dipilih untuk ‘Project Identitas’ Pencitraan Kebudayaan Perancis Selama 3 tahun di CCCL (Pusat Kebudayaan Prancis) Surabaya, dan 2007, bersama istrinya, mendirikan Ceramicqueen Studio, tempat belajar keramik di Surabaya.
Sebelumnya, di tahun 2003, berkolaborasi bersama 145 seniman Grafis sedunia dalam ‘worldwide.designers’ Studio Neo Open Tolouse, Perancis. Saat itu karyanya terpilih mewakili seni grafis dari Indonesia. Hasil kolaborasi ini berupa Buku Grafis dan diterbitkan oleh Studio Neo Open di Perancis.
Awal Desember lalu, ia menerima medali kehormatan dari Pemerintah Prancis Chevalier dans l’Ordre des Arts et des Lettres atau Ksatria dalam bidang Seni dan Kesusastraan. Ini merupakan penghargaan dari Kementerian Kebudayaan Prancis yang saat ini dipimpin oleh Menteri Roselyne Bachelot-Narquin.
Medali disematkan langsung di Kantor Konsulat Kehormatan Prancis di Surabaya oleh perwakilan Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, yaitu Stéphane Dovert, Konselor Kerjasama Kebudayaan sekaligus Direktur Institut Français di Indonesia.
Medali kehormatan ini menjadi bukti komitmen Agus Koecink selama lebih dari sepuluh tahun dalam mendukung pertukaran budaya dan seni antara Indonesia dan Prancis.
Tahun 2010, ia terpilih untuk berpartisipasi dalam program ‘Mobilitas untuk para pelaku dan aktor budaya Indonesia’ ke Prancis. Sejak itulah kolaborasi dengan Prancis akan berlangsung selama bertahun-tahun.
Pada saat residensi di kota Rouen selama satu bulan, tepatnya di Museum Sejarah Alam Rouen (Muséum d’histoire naturelle de Rouen) yang dipimpin Sébastien Minchin selaku direktur, aktivitas kesenian Agus mendapat perhatian.
Ia pun diberi kepercayaan untuk merancang desain ruang Asia di museum tersebut, untuk koleksi etnografi dari Asia. Museum Rouen pun mengundang seniman kontemporer asal Indonesia tersebut untuk berkolaborasi, menampilkan koleksi etnografi, memadukannya dengan rancangan karya artistik kontemporer sang seniman, dengan dukungan seniman Jenny Lee, pasangannya, yang juga seorang seniman.
Museum Rouen membuat ‘Galeri Benua-Benua’, ruangan dengan koleksi asal masing-masing benua. Menampilkan koleksi dari benua Asia, inilah tugas yang dikerjakan oleh Agus dan Jenny.
Mereka berdua diberi kebebasan penuh untuk memilih koleksi museum yang belum pernah ditampilkan sebelumnya, dari latar belakang kekayaan etnografis, objek-objek yang akan disajikan, Mereka bersama mengerjakan teks presentasi, merancang skenografi.
‘Salle d’Asie’ atau Ruang Asia diresmikan pada Oktober 2014, selain dihadiri undangan dari museum, juga dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Prancis dan tentunya hadir Agus Koecink dan Jenny Lee. Berkat karya Agus Koecink, objek-objek etnografi asal benua Asia menemukan suaranya lagi dan berdialog dengan koleksi dari benua lain dan berjumpa dengan publik. Melalui berbagai lokakarya selama residensi, Agus mengenalkan seni Indonesia di Prancis.
Sejak kembali dari residensi di Prancis, Agus Koecink telah menggelar beberapa kali pameran karya bertema Prancis, di antaranya: “Oleh-Oleh dari Prancis” (2010), “Paris et moi” (2012), “Rouen je t’aime” (2014) bersama Jenny Lee, dengan dukungan pusat kebudayaan Prancis, CCCL/IFI Surabaya.
Menurut Stephane Dovert, kiprah aktif Agus Koecink dalam kesenian menjadikannya aktor penting dalam dialog artistik antara Indonesia dan Prancis. (hdl)

