Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan
  • Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap
  • Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office
  • OJK Perkuat BPR dan BPRS Lewat Roadmap 2024-2027, Aset Tembus Rp236,69 Triliun pada Maret 2026
  • Polres Gresik Kembalikan 3 Motor Korban Curanmor dan Begal, AKBP Ramadhan Nasution: Tanpa Biaya Sepeser Pun
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Esai»Soccer War

Soccer War

Esai Oryza A. Wirawan5 November 2021
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Di Tegucigalpa atau Glasgow, alasan dan penjelasan-penjelasan tak terlampau dibutuhkan untuk sebuah kebencian dalam sepakbola. Kebencian, dan kemudian kekerasan, seperti ada dan acak keluar begitu saja dari sebuah kotak pandora.

Senin, 9 Juni 1969. Tegucigalpa, ibu kota Honduras. Ini pertandingan pertama tim nasional Honduras melawan El Salvador untuk memperebutkan satu tiket ke Pialad Dunia di Meksiko tahun berikutnya. Dunia tak menaruh perhatian untuk sebuah laga dua negara yang sama-sama tak punya nama tenar di dunia sepakbola.

Luis Suarez, seorang pengamat politik nun jauh di Meksiko sana, seperti melontarkan sebuah nujum kepada Ryszard Kapuscinski, seorang jurnalis Polandia: “Sebentar lagi akan terjadi perang.”

Pertandingan itu berakhir 1-0 untuk kemenangan Honduras. Para pemain El Salvador bermain loyo, setelah malam sebelum pertandingan, hotel mereka menginap didatangi sejumlah pendukung timnas Honduras yang menyambitkan batu-batu ke jendela, dan klothekan, memukul kaleng-kaleng kosong. Sebuah malam yang berisik.

Oryza A. Wirawan
Jurnalis, pegiat literasi Jember Jawa Timur

Dunia tetap tak menaruh perhatian, ketika Amelia Bolanios, di depan televisi di rumahnya di El Salvador sana, mengambil sebuah pistol di laci meja kerja sang ayah dan menembak dadanya sendiri. Dan yang terjadi berikutnya adalah dramatisasi: cerita menyebar, bahwa gadis muda itu tak tahan melihat tanah airnya bertekuk lutut dalam pertandingan sepakbola melawan Honduras.

Tak ada yang tahu pasti alasan Amelia mengakhiri hidupnya. Ia hanya mati sesaat setelah Roberto Cardona, ujung tombak Honduras, menjebol gawang El Salvador. Adakah ia mati demi sepakbola? Adakah ia seorang patriot, pahlawan?

Kita tak bisa menerka. Sepakbola dan kematian seperti tak membutuhkan penjelasan-penjelasan di El Salvador. Termasuk, ketika Amelia dimakamkan dengan panji-panji kenegaraan: pasukan pengantar jenasah berderap dengan langkah rapi menuju kuburan, dan presiden El Salvador serta para menterinya mengikuti di belakang peti mati yang dibalut bendera negara.

Laga kedua Honduras melawan El Salvador, kali ini di Stadion Flor Blanca San Salvador, dipenuhi puluhan ribu orang yang tak ubahnya para demonstran. Mereka berteriak histeris, mengusung foto besar Amelia Bolanios, menyumpah-serapah pemain-pemain Honduras. Tim nasional Honduras harus diangkut dengan kendaraan taktis untuk menuju stadion.

El Salvador menang 3-0. “Untunglah kami kalah,” keluh Mario Griffin, pelatih Honduras. Namun, para pendukung Honduras yang datang ke sana tak seberuntung itu. Mereka dihajar tunggang-langgang oleh para pendukung El Salvador: dua tewas, ratusan luka-luka, 150 mobil milik pendukung Honduras dibakar.

Tak butuh waktu lama. Perbatasan dua negara ditutup beberapa jam kemudian. Kapuscinski terbang ke Tegucigalpa, dan menjadi wartawan asing pertama dan satu-satunya yang meliput sebuah perang seratus jam antar dua negara bertetangga, dalam arti sebenarnya, yang dipicu oleh sebuah pertandingan sepakbola. Kapuscinski menuliskan reportasenya dalam buku The Soccer War.

Alasan dan penjelasan-penjelasan tak terlampau dibutuhkan untuk sebuah kebencian dalam sepakbola.

Di Glasgow, Skotlandia, selama turun-temurun, generasi demi generasi, para pendukung Rangers dan Celtics saling serang. Mereka tinggal di bawah langit yang sama, bertetangga, di bawah kibaran bendera nasional yang sama. Namun para pendukung Rangers dengan kibaran bendera biru atau oranye selalu menyanyikan ejekan untuk lawan mereka: lutut kami berkubang darah orang Feni. Dan para pendukung Celtics dengan kibaran bendera hijau meneriakkan kalimat yang tak pernah berubah: Oranye haram jadah.

Glasgow sebuah kota yang terbelah dengan ironi. Di sini para pemikir dunia modern seperti Adam Smith lahir. Sepakbola menjadi industri. Namun di sini pula sepakbola tak pernah beranjak dari persengketaan agama abad 16: Rangers mewakili komunitas Protestan dan Celtics mewakili komunitas Katolik. “Inilah perang yang belum tuntas antara Katolik dengan gerakan reformasi Protestan,” tulis jurnalis Majalah The New Republic, Franklin Foer, dalam bukunya.

Akhir pekan di Glasgow, ketika Rangers berhadapan dengan Celtics, bangsal gawat darurat rumah sakit mendadak lebih sibuk dari biasanya. Pasien yang dikirim ke sana bisa melonjak sembilan kali lipat. Foer mencatat: selama tujuh tahun terakhir 18 orang pendukung dari kedua kubu tewas.

Alasan dan penjelasan-penjelasan tak terlampau dibutuhkan untuk sebuah kebencian dalam sepakbola. Karena sepakbola sendiri sebenarnya diperalat untuk menjadi simbol kebencian, ketakutan terhadap yang dianggap liyan (the others), dan peneguhan dominasi satu pihak di atas yang lain.

Di El Salvador, kebencian karena sepakbola menutupi dampak kebijakan reformasi tanah pemerintah Honduras yang menyebabkan 300 ribu imigran El Salvador yang sudah menetap dan memiliki tanah di sana kembali ke negaranya. Kebencian karena perasaan terusir warga El Salvador dari Honduras mengatasnamakan sepakbola dan nasionalisme.

Di Skotlandia, Franklin Foer menulis, Glasgow Celtic dibentuk oleh Romo Walfrid karena takut. Ia berharap sebuah klub sepakbola yang juara bisa menghancurkan mitos inferioritas Katolik terhadap Protestan di Skotlandia. Dan, kaum Protestan membalasnya dengan menjadikan Rangers sebagai simbol perlawanan. Secara telak, menurut Foer, Rangers menggantikan simbol Gereja Protestan di Skotlandia.

Kebencian memang tak membutuhkan penjelasan. Setiap penjelasan tak selamanya menjernihkan karena selalu dianggap sebagai klaim dan pembelaan diri. Tapi kekerasan juga bukanlah jawaban dalam sebuah rivalitas sepakbola.

Selama bertahun-tahun kemudian setelah insiden pertandingan Pra Piala Dunia, El Salvador dan Honduras terlibat ketegangan di perbatasan. The Old Firm, pertemuan antara Ranger dan Celtic, masih berdarah-darah.

Bisakah kita menghentikan permusuhan yang memperalat simbol-simbol sepakbola itu? Di El Salvador dan Honduras, perang berhenti setelah enam ribu orang tewas, dua belas ribu orang terluka, lima puluh ribu orang kehilangan rumah dan tanah. Desa-desa hancur.

Di Glasgow, Graeme Souness, pelatih Rangers, dengan nada putus asa mengatakan: “Fanatisme akan selalu bercokol di Ibrox (stadion kandang Rangers).”

Saya membayangkan teori politik Antonio Gramsci, pemikir Marxis Italia, dipraktikkan di sini: kepatuhan (konsen) hanya bisa diciptakan melalui serangkaian tindakan koersif (pendisplinan). Negara perlu menegakkan hegemoni di atas para suporter sepakbola yang mulai berpikir chauvinis dan primordial. Di Inggris, tindakan represif aparat terhadap pelaku kekerasan sepakbola secara terus-menerus pada akhirnya memunculkan kepatuhan. Hooliganisme masih ada memang, namun sudah bisa ditekan di titik terendah.

Entahlah. Di Tegucigalpa atau Glasgow, alasan dan penjelasan-penjelasan tak terlampau dibutuhkan untuk sebuah kebencian dalam sepakbola. Tapi kita tak boleh hilang harapan, karena seperti kata salah satu teman saya: pada akhirnya, perang apapun, termasuk perang sepakbola, menyadarkan kita bahwa kemanusiaan lebih penting daripada kebanggaan. ***

line

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id

line  

Berita Lainnya

Dwi Wulan Ramadani

Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan

3 Juni 2026
Barang bukti kasus perdagangan bagian satwa dilindungi berupa gading gajah di Kabupaten Gianyar, Bali

Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap

2 Juni 2026
Sylvester Stallone dalam Rambo: Last Blood (2019)

Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office

2 Juni 2026
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

OJK Perkuat BPR dan BPRS Lewat Roadmap 2024-2027, Aset Tembus Rp236,69 Triliun pada Maret 2026

2 Juni 2026
Polres Gresik mengembalikan tiga motor korban curanmor dan begal tanpa biaya setelah berhasil mengungkap komplotan pelaku kejahatan jalanan.

Polres Gresik Kembalikan 3 Motor Korban Curanmor dan Begal, AKBP Ramadhan Nasution: Tanpa Biaya Sepeser Pun

1 Juni 2026
Cole Palmer (sumber foto: facebook @ChelseaFC)

Legenda Chelsea Kritik Cole Palmer, Marcel Desailly Soroti Mentalitas dan Peran Taktis Sang Bintang

1 Juni 2026
Real Madrid

Aurelien Tchouameni Akhirnya Buka Suara Soal Insiden dengan Fede Valverde di Real Madrid

1 Juni 2026
Jarrod Bowen (sumber foto: instagram @jarrodbowen)

Chelsea Pertimbangkan Rekrut Jarrod Bowen, Bintang West Ham yang Jadi Incaran Usai Degradasi

31 Mei 2026
Telkomsel dan TVRI menghadirkan Bola Gembira MAXStream TV untuk Piala Dunia 2026 dengan akses 104 pertandingan, paket khusus, dan 100 ribu akses gratis.

Sambut Piala Dunia 2026, Telkomsel dan TVRI Hadirkan Bola Gembira MAXStream TV, Siarkan 104 Pertandingan hingga Pelosok Indonesia

31 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Ilustrasi Bitcoin (foto: Karolina Grabowska, pexels)

Bitcoin Anjlok di Tengah Konflik AS-Iran, Pasar Kripto Global Kehilangan Triliunan Rupiah

29 Mei 2026
Naomi Osaka tampil mencuri perhatian di French Open 2026 lewat busana couture berkilau sebelum meraih kemenangan di Paris.

Naomi Osaka Curi Perhatian di French Open 2026 dengan Gaun Emas Berkilau dan Gaya Couture

28 Mei 2026
Crystal Palace menjuarai Liga Conference 2025/26 usai mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final. Gelar Eropa pertama The Eagles tercipta di Leipzig.

Crystal Palace Juara Liga Conference 2025/26 Usai Kalahkan Rayo Vallecano di Final

28 Mei 2026
Ruri Agung Wahyuono

ITS Kembangkan Strip Test Kit Pendeteksi Minyak Babi, Praktis untuk Muslim Traveler dan UMKM

27 Mei 2026
Sejumlah pesawat Garuda Indonesia sedang parkir di bandara udara (foto: Ekky Wicaksono, pexels)

Garuda Indonesia Catat OTP Haji 98,21 Persen, Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

25 Mei 2026
Berita Lainnya
Dwi Wulan Ramadani

Alumni Ekonomi Islam UNAIR Berkiprah di Kebijakan Energi Nasional, Dwi Wulan Ramadani Dorong Transisi Energi Berkelanjutan

3 Juni 2026
Barang bukti kasus perdagangan bagian satwa dilindungi berupa gading gajah di Kabupaten Gianyar, Bali

Perdagangan Gading Gajah di Bali Terbongkar, Berkas Perkara Tersangka Sudah Dinyatakan Lengkap

2 Juni 2026
Sylvester Stallone dalam Rambo: Last Blood (2019)

Rambo: Last Blood (2019): Misi Balas Dendam Terakhir John Rambo yang Menuai Kontroversi dan Sukses di Box Office

2 Juni 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.