Surabaya (pilar.id) – Proses belajar di sekolah tidak selalu harus berjalan dalam batas-batas yang terpisah. Terbukti, dengan mengadopsi pendekatan lintas sekolah, pembelajaran bisa menjadi lebih menarik dan efektif. Hal ini terlihat dalam kegiatan yang diadakan oleh tiga sekolah di Surabaya pada Sabtu (26/8/2023) siang.
Ketiga sekolah tersebut adalah SD Maarif Jogosari Pandaan, SD Islamiyah Magetan, dan SDI Plus Al Ikhlas, yang terletak di Kecamatan Rembang, Pasuruan.
Kegiatan tersebut mengusung tema ‘Sahabat Penaku, Sahabat Baruku’, dengan fokus pada kegiatan menulis surat pribadi. Lebih dari 200 siswa dari ketiga sekolah tersebut turut serta dalam aktivitas literasi ini.
Ternyata, anak-anak dari generasi Z begitu antusias menjawab tantangan ini, meskipun banyak yang mengira bahwa menulis surat merupakan hal kuno.
Setiap siswa diberikan kesempatan untuk menulis surat pribadi yang ditujukan kepada teman baru mereka di sekolah lain.
Para siswa laki-laki menulis surat kepada siswa laki-laki lainnya, begitu juga dengan siswa perempuan. Isi surat tersebut bervariasi, mulai dari memperkenalkan diri, mengajak berteman, mengenalkan sekolah, berbicara tentang hobi dan cita-cita, hingga membicarakan hal-hal seperti TikTok.
Tidak hanya menulis, siswa-siswa ini juga memberikan sentuhan kreatif pada surat-surat mereka. Seperti zaman dulu, mereka menghias kertas surat dengan gambar-gambar dan ornamen warna-warni. Ada yang bahkan memotong-motong kertas untuk membentuk hiasan yang menarik. Bentuk amplop pun bervariasi, sesuai dengan keinginan mereka, karena ini adalah surat nonformal.
Aunur Rofiq, M.Pd, Wali Kelas VI Muzdalifah, berbagi pengalaman tentang suasana pembelajaran yang berlangsung.
Secara umum, anak-anak sangat menikmati kegiatan ini. Meskipun ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam memulai narasi surat, namun dengan bimbingan, mereka mampu mengatasi kendala tersebut.
“Setelah mendapatkan bimbingan, mereka mampu menulis dengan lancar dan mengembangkan narasi sendiri,” ujarnya.
Menurut Hj. Nurul Khusnaini, S.Pd, Kepala SD Maarif Jogosari Pandaan, praktik menulis surat tetap relevan hingga saat ini.
Menulis surat mengajarkan siswa untuk mengungkapkan gagasan dan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan. Selain itu, kegiatan ini juga melatih mereka untuk berkomunikasi dengan baik dan menjalin persahabatan dengan etika yang baik.
Kegiatan serupa juga diadakan di SD Islamiyah Magetan. Bu Indarti, seorang guru di sekolah tersebut, merasakan keceriaan siswanya dalam kegiatan ini, mungkin karena menulis surat telah menjadi hal yang jarang dilakukan. “Yang menarik adalah saat anak-anak menempel perangko ke amplop surat. Bagi mereka, itu adalah pengalaman baru,” ujarnya.
Setelah menempelkan perangko, para siswa pun bersemangat menuju kantor pos setempat untuk mengirimkan surat mereka. Bahkan sebelum kegiatan berakhir, beberapa siswa sudah tidak sabar ingin suratnya sampai di tujuan dan mendapatkan balasan dari teman barunya. Kegiatan ini membuktikan bahwa menulis surat tetap menyenangkan.
Uswatun Hasanah, S.Pdi, Kepala Sekolah SDI Plus Al Ikhlas, juga mendukung model pembelajaran lintas sekolah ini. Dia berharap kolaborasi semacam ini terus berlanjut agar sekolah-sekolah dapat saling belajar dari satu sama lain. Hal yang sama diungkapkan oleh Triyono, M.Pd.I, Kepala SD Islamiyah Magetan. Dia menyatakan bahwa kerja sama antar sekolah, terutama sekolah berbasis Islam, penting untuk saling memperkuat dan mendukung satu sama lain. (usm/ted)


