Denpasar (pilar.id) – Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat bahwa sebanyak 324 gempa bumi terjadi di Bali sepanjang tahun 2023. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan dengan tahun 2022 yang mencatatkan 435 kejadian.
Menurut Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, dari total gempa bumi tersebut, hanya satu kejadian yang memiliki kekuatan magnitudo 5 atau lebih. Ia menjelaskan bahwa gempa bumi di Bali didominasi oleh kejadian magnitudo kurang dari 3, mencapai 271 kali, dan magnitudo 3 hingga kurang dari magnitudo 5, mencapai 52 kali.
Dalam konteks kedalaman, gempa bumi di wilayah Bali cenderung bersifat dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer.
Sementara itu, untuk regional III yang mencakup Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, BBMKG mencatat sebanyak 5.500 kali gempa bumi, baik yang berpusat di darat maupun di laut. Rinciannya adalah 3.971 kali gempa bumi dengan magnitudo di bawah 3, 1.508 kali gempa bumi dengan magnitudo 3 hingga kurang dari 5, dan 21 kali kejadian gempa bumi dengan kekuatan magnitudo sama dengan atau di atas 5.
Cahyo menekankan bahwa dinamika kompleks bumi terlihat dari variasi episenter, hiposenter, dan kekuatan gempa bumi yang terjadi. Ia juga menyoroti pentingnya sosialisasi dan simulasi dalam menghadapi gempa bumi dan tsunami untuk meminimalkan kerugian dan risiko korban jiwa.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah, BBMKG bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk membentuk komunitas masyarakat yang siap dan tanggap terhadap bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Beberapa kegiatan seperti “BMKG goes to school,” kesiapsiagaan bencana bagi dunia usaha pariwisata, dan latihan waspada tsunami telah dilakukan.
Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, BBMKG juga mendorong agar masyarakat membangun bangunan yang tahan gempa guna meminimalkan kerusakan dan korban jiwa. (usm/hdl)










