Lombok (pilar.id) – Seorang turis asal Brasil, Juliana Marins (26), ditemukan meninggal setelah terjatuh ke dalam kawasan jurang terjal Gunung Rinjani, gunung berapi aktif tertinggi kedua di Indonesia, dalam sebuah pendakian yang berlangsung dramatis dan berujung tragis.
Keluarga korban mengonfirmasi kabar duka ini pada Selasa (24/6) setelah tim penyelamat berhasil mencapai lokasi jenazah di jurang sedalam 600 meter, menyusul upaya penyelamatan yang penuh tantangan sejak Sabtu (22/6).
Diketahui, Marins sedang mendaki bersama lima temannya dan seorang pemandu pada Sabtu pagi sekitar pukul 06.30 WITA, ketika dia terpeleset dan terjatuh dari tebing curam di jalur pendakian dekat kawah Gunung Rinjani.
Beberapa rekaman video yang beredar di media Brasil menunjukkan Marins masih dalam kondisi hidup, duduk dan bergerak di tanah berwarna abu-abu di bawah jalur setapak.
Namun, cuaca berkabut dan medan ekstrem menyulitkan pencarian. Meskipun sempat ditandai oleh drone termal, posisi Marins berpindah pada Minggu pagi, dan tak lagi merespons panggilan penyelamat.
Evakuasi Terkendala Cuaca dan Medan
Pihak keluarga menyatakan bahwa cuaca ekstrem dan kabut tebal memaksa tim SAR menunda upaya penyelamatan pada Senin.
Setelah kondisi membaik pada Selasa, tim akhirnya mencapai jasad Marins, meskipun proses evakuasi fisik harus ditunda hingga Rabu karena kondisi cuaca yang kembali memburuk. Dalam operasi penyelamatan ini, lebih dari 50 personel diterjunkan.
Juliana Marins diketahui sedang melakukan perjalanan backpacking ke beberapa negara Asia Tenggara. Sebelum tiba di Lombok, ia mengunjungi Thailand dan Vietnam. Pendakian ke Gunung Rinjani adalah bagian dari perjalanannya menjelajahi keindahan alam Indonesia.
Dikutip dari BBC, keluarganya menyampaikan duka yang mendalam melalui media sosial, “Dengan penuh kesedihan kami mengabarkan bahwa Juliana tidak selamat. Kami sangat berterima kasih atas semua doa, perhatian, dan dukungan yang kami terima.”
Pihak keluarga Marins juga mengungkapkan kekhawatiran atas kebijakan pengelolaan jalur pendakian yang tetap dibuka setelah insiden terjadi. Padahal medan di sekitar kawah sangat berisiko tinggi terutama saat musim berkabut dan licin.
Tragedi ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dalam wisata alam ekstrem di Indonesia. Meski Gunung Rinjani menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya, keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama. (mad/hdl)




