Washington DC (pilar.id) – Dominasi dolar Amerika Serikat di panggung ekonomi global terancam mengalami penurunan signifikan seiring rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap negara-negara anggota BRICS.
Peringatan ini disampaikan oleh ekonom Igbal Guliyev dari MGIMO University dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, Tass, pada 10 Juli 2025 lalu.
Menurut Guliyev, langkah Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif atas produk dari negara-negara BRICS—yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan—berpotensi menjadi bumerang.
Alih-alih melemahkan kekuatan ekonomi BRICS, kebijakan ini justru dapat mempercepat pergeseran sistem keuangan global menuju struktur yang lebih multipolar.
“Negara-negara BRICS tengah membangun arsitektur paralel di bidang keuangan, teknologi, dan institusi yang secara langsung menantang status quo dan dominasi dolar,” ujar Guliyev, dikutip dari News Bitcoin.com.
Ia menilai bahwa tarif tersebut bukan hanya sekadar kebijakan dagang, melainkan cerminan dari pergeseran geopolitik yang lebih luas. Guliyev memperkirakan reaksi BRICS tidak hanya akan bersifat balasan langsung (tit-for-tat), tetapi juga strategis, termasuk percepatan proses de-dolarisasi dan pembentukan sistem penyelesaian internasional baru.
“Ini bisa menjadi titik awal menurunnya dominasi ekonomi Amerika dan lahirnya sistem perdagangan global yang benar-benar multipolar,” tambahnya.
Tiongkok secara terbuka telah mengecam rencana tarif AS tersebut sebagai bentuk “pemaksaan ekonomi”. Di sisi lain, BRICS semakin aktif mendorong penggunaan sistem pembayaran alternatif untuk menghindari ketergantungan pada jaringan seperti SWIFT yang didominasi Barat.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov dalam konferensi pers terpisah menekankan bahwa BRICS tidak memiliki agenda anti-Amerika. Ia menyerukan penyelesaian ketegangan melalui jalur diplomatik dan dialog terbuka, bukan ancaman sepihak.
“Tidak ada komponen anti-Amerika dalam agenda BRICS. Ketegangan ekonomi sebaiknya diselesaikan melalui dialog normal dan tenang, bukan melalui kebijakan koersif,” tegas Ryabkov.
Implikasi Global
Analis melihat langkah-langkah ini sebagai bagian dari pergeseran struktural yang lebih besar dalam ekonomi global. Ketika kekuatan-kekuatan baru seperti BRICS memperkuat posisi mereka, dominasi tradisional dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan dan cadangan devisa kian dipertanyakan.
Guliyev dan para analis lainnya menilai bahwa dunia sedang memasuki masa transisi yang penuh gejolak, di mana faktor-faktor non-ekonomi seperti politik luar negeri dan strategi geopolitik memainkan peran yang semakin besar dalam membentuk arah ekonomi global ke depan. (mad/hdl)








