Jakarta (pilar.id) – Pelatih FC Barcelona, Hansi Flick, angkat suara terkait insiden chant bernuansa Islamofobia yang terjadi dalam laga persahabatan antara Timnas Spanyol melawan Timnas Mesir. Pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol itu tercoreng oleh perilaku sejumlah suporter di stadion.
Insiden tersebut terjadi di RCDE Stadium, di mana terdengar nyanyian yang menyinggung identitas agama. Chant tersebut dilaporkan terdengar berulang kali sepanjang pertandingan dan langsung memicu reaksi luas. Aparat kepolisian setempat pun telah membuka penyelidikan untuk menelusuri pelaku.
Salah satu pemain yang terdampak adalah Lamine Yamal. Sehari setelah pertandingan, ia menyampaikan sikap tegas dengan mengecam tindakan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat ditoleransi dalam sepak bola modern.
Hansi Flick turut memberikan dukungan terhadap pernyataan Yamal. Ia menilai sepak bola seharusnya menjadi ruang inklusif yang menjunjung tinggi rasa saling menghormati, tanpa memandang latar belakang ras maupun agama. Menurutnya, insiden ini mencerminkan perlunya refleksi mendalam dalam dunia olahraga.
Di sisi lain, pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, menilai bahwa negaranya bukanlah negara rasis, meskipun ia mengakui masih ada pekerjaan rumah untuk menghapus praktik diskriminasi di lingkungan sepak bola.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Ia melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari persoalan sosial yang lebih luas, bukan hanya di Spanyol tetapi juga di berbagai negara lain. Menurutnya, menurunnya rasa saling menghormati di masyarakat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya perilaku diskriminatif.
Insiden ini berpotensi menimbulkan konsekuensi serius bagi federasi sepak bola Spanyol, Royal Spanish Football Federation. Selain kemungkinan denda atau penutupan sebagian stadion, terdapat kekhawatiran bahwa badan sepak bola dunia, FIFA, dapat mempertimbangkan insiden ini dalam penilaian terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2030.
Kasus ini kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi sepak bola global dalam memberantas diskriminasi. Desakan perubahan pun semakin menguat, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap pentingnya menjadikan stadion sebagai ruang yang aman dan inklusif bagi semua pihak. (mad/hdl)








