Surabaya (pilar.id) – R. Dedy Chairil Zain dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik jenjang Doktor (S3) Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) pada Wisuda Periode 262 yang digelar di Surabaya, Sabtu (20/6/2026). Capaian akademik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 tersebut menjadi penanda keberhasilan perjalanan panjang seorang aparatur negara yang harus menyeimbangkan tanggung jawab profesional, keluarga, dan studi doktoral.
Di balik pencapaiannya, Dedy menekankan bahwa keberhasilan akademik bukan hanya soal angka, melainkan proses disiplin dan konsistensi dalam menjalani berbagai peran kehidupan. Prinsip kerja yang ia pegang—disiplin tanpa pengawasan, bekerja tanpa diperintah, serta bertanggung jawab tanpa diminta—menjadi fondasi yang mengantarkannya hingga titik tertinggi dalam pendidikan formal.
Sekolah Pascasarjana UNAIR pada periode wisuda ini meluluskan 44 lulusan, dengan dua di antaranya meraih predikat lulusan terbaik. Di bawah kepemimpinan Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. Achmad Chusnu Romdhoni, institusi tersebut terus menegaskan arah pengembangan sebagai “School of Collaborative Leadership”, yang menempatkan kolaborasi lintas disiplin, empati, serta pemecahan masalah sebagai inti pembelajaran akademik.
Dedy menjadi representasi nyata dari visi tersebut. Dalam pandangannya, kepemimpinan modern tidak lagi bertumpu pada struktur instruksional yang kaku, melainkan pada kemampuan membangun kerja sama dan budaya berbagi pengetahuan di lingkungan kerja. Hal ini juga tercermin dalam penelitian disertasinya yang menyoroti bagaimana inovasi dalam organisasi publik lahir dari kolaborasi, bukan sekadar perintah hierarkis.
Ketertarikan Dedy pada bidang pengembangan sumber daya manusia berangkat dari pengalamannya sebagai aparatur negara yang menyaksikan langsung bahwa faktor manusia tetap menjadi penentu utama keberhasilan organisasi, meskipun teknologi dan regulasi terus berkembang. Ia menilai bahwa kepemimpinan, budaya organisasi, dan perilaku pegawai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Dalam proses penulisan disertasi, tahap analisis data menjadi salah satu tantangan terbesar. Dedy dituntut untuk menjaga objektivitas akademik sekaligus memastikan setiap kesimpulan memiliki dasar ilmiah yang kuat. Tantangan tersebut, menurutnya, justru memperkaya proses pembelajaran di tingkat doktoral.
Di luar capaian akademik, keberhasilan Dedy juga tidak terlepas dari dukungan keluarga. Ia menilai studi doktoral sebagai perjalanan kolektif yang melibatkan pengorbanan, pemahaman, dan dukungan orang-orang terdekat, terutama keluarga yang mendampingi selama proses pendidikan berlangsung.
Pesan yang ia sampaikan kepada kalangan akademisi muda menekankan pentingnya orientasi kebermanfaatan ilmu. Menurutnya, gelar akademik bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Pandangan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan tinggi yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat transformasi sosial.
Capaian R. Dedy Chairil Zain dalam Wisuda 262 UNAIR tidak hanya mencerminkan prestasi individual, tetapi juga menggambarkan bagaimana pendidikan tinggi dapat menjadi ruang pembentukan pemimpin yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi bagi tantangan masyarakat yang terus berkembang. (ret/hdl)










