Jakarta (pilar.id) – Preferensi berlibur wisatawan muda mancanegara, khususnya Generasi Z (Gen-Z) dari kawasan Asia Pasifik, kini mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Mereka mulai beralih dari destinasi wisata arus utama (mainstream) dan lebih aktif memburu pengalaman baru yang lebih personal, autentik, serta dekat dengan alam nusantara.
Berdasarkan data riset internal platform akomodasi global Airbnb, sepanjang musim panas tahun ini arus kunjungan turis muda internasional tidak lagi hanya berpusat di satu titik. Gelombang pelancong baru ini mulai menyebar ke kawasan urban yang dinamis hingga ke daerah pelosok luar kota yang menawarkan ritme liburan lebih lambat dan santai (slow-living).
Gaya Liburan Gen-Z Lintas Negara: Dari Selancar hingga Kuliner Tersembunyi
Data internal menunjukkan adanya segmentasi ketertarikan yang unik berdasarkan negara asal wisatawan. Turis Gen-Z asal Australia, misalnya, kini dilaporkan mulai mengeksplorasi wilayah di luar destinasi lama yang sudah terlalu akrab bagi mereka. Kelompok ini mulai bergerak masif ke arah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), demi menjajal olahraga selancar untuk pertama kalinya atau sekadar menikmati lanskap pesisir yang masih asri dan tenang.
Sementara itu, Jakarta menjelma menjadi magnet baru sebagai destinasi urban pilihan bagi pelancong Gen-Z asal Malaysia. Kedekatan geografis dimanfaatkan mereka untuk melakukan penjelajahan di berbagai kawasan industri kreatif serta berburu kuliner lokal tersembunyi (hidden gems). Di sisi lain, Bali rupanya masih mempertahankan pesona magisnya bagi pasar anak muda Jepang. Kedekatan emosional ini terus terjaga berkat kuatnya perpaduan warisan budaya lokal serta keramahtamahan khas masyarakat Pulau Dewata.
Lompatan Minat Akomodasi Unik: Danau Toba, Lombok Tengah, dan Kampar
Perubahan perilaku konsumsi wisata ini berdampak langsung pada meroketnya popularitas kategori properti sewaan tertentu di luar Bali. Kabupaten Samosir di Sumatera Utara, yang merupakan bagian dari Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba, sukses mencatatkan angka keterpilihan hunian tepi danau (lakefront) tertinggi di Indonesia, yakni mendekati angka 90 persen dari total listing. Properti seperti Family Cabin Lake Toba menjadi contoh hunian kabin kayu yang paling dicari karena menawarkan keintiman dengan alam bagi kelompok kecil.
Daerah luar Jawa lainnya yang ikut naik daun adalah Lombok Tengah. Sebagai rumah dari Sirkuit Mandalika, wilayah ini menguasai lebih dari 10 persen pasar pemesanan hunian berbasis aktivitas luar ruang yang dekat dengan area selancar. Properti berkonsep tropis seperti Soluna Bungalows menjadi buruan karena mendukung gaya hidup santai dengan fasilitas kolam bergaya laguna.
Kejutan terbesar muncul dari Sumatra, di mana Kabupaten Kampar di Provinsi Riau mencuat sebagai salah satu daerah dengan konsentrasi penginapan dekat lapangan golf tertinggi di Indonesia, dengan angka meyakinkan di atas 95 persen. Kehadiran akomodasi seperti The Pass Dam House yang dekat dengan akses bandara menjadi bukti adanya ceruk pasar baru untuk perjalanan bisnis sekaligus rekreasi premium di wilayah yang belum banyak tersorot.
Dampak Jangka Panjang bagi Ekosistem Pariwisata Lokal
Fenomena meluasnya persebaran wilayah berlibur para pelancong muda dunia ini menjadi angin segar bagi pemerataan ekonomi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif nasional. Pola pergerakan ini menandakan bahwa daya tarik pariwisata Indonesia sangat kaya dan berlapis, tidak hanya bergantung pada magnet tunggal.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan dan peluang baru bagi para penyedia jasa akomodasi lokal untuk terus mengedepankan keunikan daerahnya. Dengan menyediakan ruang menginap yang menawarkan pengalaman lokal yang jujur dan autentik, para pelaku industri dapat menangkap peluang dari perubahan tren global ini secara berkelanjutan. (ret/hdl)










