Surabaya (pilar.id) – Gemerlap lampu malam dan harmoni gerak seni dari berbagai penjuru dunia sukses memukau ribuan pasang mata di Balai Pemuda Surabaya. Pertunjukan bertajuk Culture Night yang digelar pada Sabtu malam tersebut menjadi puncak kemeriahan dari rangkaian Festival Seni Lintas Budaya (Cross Culture Festival) Ke-17 Tahun 2026.
Agenda tahunan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini menyuguhkan kolaborasi apik mulai dari seni tari, musik, teater, hingga ekshibisi kuliner tradisional. Konsep ini secara konsisten dipertahankan untuk melestarikan warisan budaya adiluhung sekaligus memperkenalkan keunikan akar budaya dari masing-masing daerah dan negara peserta.
Visi Global Surabaya Tanpa Kehilangan Akar Budaya
Ajang internasional ini menjadi bukti nyata komitmen Kota Pahlawan dalam menyediakan ruang inklusif bagi keberagaman global. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar menjadi tontonan hiburan bagi warga, melainkan ruang edukasi interaktif dan media perjumpaan lintas komunal.
Lilik menyatakan harapan besarnya agar Surabaya mampu bertransformasi menjadi metropolitan yang modern dan maju tanpa harus menanggalkan identitas serta akar budayanya. Keberagaman yang ditampilkan dalam festival ini dinilai sebagai kekuatan kolektif kota. Selama tiga hari pelaksanaan, para delegasi diajak mengeksplorasi destinasi ikonik kota, mulai dari kawasan Kota Lama Surabaya, wisata susur Sungai Kalimas, hingga terlibat dalam pementasan massal Tari Remo dan Tari Yosakoi.
Kolaborasi 14 Delegasi Lintas Negara dan Daerah
Skala penyelenggaraan tahun ini terbilang masif dengan keterlibatan aktif dari berbagai seniman lintas benua. Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Ridzotullahmad Nurchakim, memaparkan bahwa terdapat 14 delegasi yang unjuk gigi. Dari ranah internasional, hadir perwakilan dari Xiamen (Tiongkok), India, Thailand, hingga Jerman yang berkolaborasi dengan mahasiswa asing Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Sementara untuk delegasi domestik, panggung budaya diramaikan oleh seniman dari DKI Jakarta, Lampung, Sulawesi Selatan, Bali, Mojokerto, Malang, serta sanggar seni lokal Surabaya. Menurut Ridzotullahmad, tingginya antusiasme penonton terlihat sejak hari pertama di setiap titik lokasi acara. Kehadiran para delegasi asing ini juga dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat diplomasi Sister City serta memperluas jejaring promosi pariwisata Surabaya di tingkat global.
Benteng Edukasi Budaya bagi Generasi Muda
Dampak positif dari pagelaran seni lintas kultural ini dirasakan langsung oleh para pelaku seni yang terlibat. Shakira Martandjelika, salah satu penari asal Bali yang kini menetap di Surabaya, mengekspresikan rasa bangganya setelah sukses membawakan Tari Legong Condong di hadapan publik Surabaya.
Bagi Shakira, ruang perjumpaan budaya seperti ini memiliki urgensi yang sangat tinggi, khususnya bagi generasi muda atau Gen Z yang saat ini dinilai terlalu larut dalam eksposure dunia digital dan gawai. Ia berharap kehadiran festival nyata seperti ini mampu memantik kesadaran generasi muda untuk tidak hanya mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal, tetapi juga membuka cakrawala mereka untuk menghargai serta menghormati identitas budaya dari belahan dunia lain. (hdl)










