Semarang (pilar.id) – Komisi VI DPR RI melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke fasilitas produksi PT Phapros Tbk di Pabrik Simongan, Semarang, Jawa Tengah. Langkah pengawasan ini dilakukan guna mengevaluasi tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor farmasi sekaligus mendorong percepatan kemandirian industri kesehatan domestik dari ketergantungan pasar global.
Agenda strategis tersebut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan utama, meliputi Badan Pengelola (BP) BUMN, PT Danantara Asset Management, holding PT Bio Farma (Persero), serta PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Evaluasi difokuskan pada capaian program substitusi bahan baku obat impor menjadi produksi dalam negeri di lingkungan Kimia Farma Group, di mana Phapros menjadi salah satu pilar manufaktur strategisnya.
Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Erma Rini, mengungkapkan bahwa tingginya angka impor bahan baku obat saat ini masih menjadi tantangan masif bagi ketahanan nasional. Guna mengatasi persoalan tersebut, ia menekankan pentingnya optimalisasi potensi lokal, termasuk pengembangan produk farmasi berbasis herbal dan pemanfaatan biodiversitas Indonesia yang ditopang oleh riset mendalam sebagai alternatif substitusi.
Lebih lanjut, Anggia mendesak penguatan sinergi lintas sektor antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, dan Bio Farma Group agar kebijakan yang dilahirkan berpihak pada serapan produk lokal. Pemerintah juga diminta menyajikan basis data akurat terkait porsi penggunaan obat produksi nasional dalam program kesehatan publik untuk mengukur efektivitas kebijakan intervensi.
Mengurai Kendala Struktural Hulu hingga Hilir
Kunjungan spesifik ini dirancang untuk memetakan efektivitas kolaborasi antarlembaga, khususnya dalam aspek pengelolaan aset serta pembiayaan investasi industri hulu. Parlemen berupaya mengidentifikasi simpul kendala struktural yang selama ini menghambat akselerasi industri bahan baku obat domestik.
Beberapa persoalan klasik seperti keterbatasan skala ekonomi, adopsi teknologi mutakhir, serta pemenuhan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi poin krusial yang dibahas dalam dialog bersama jajaran direksi. DPR ingin memastikan integrasi berjalan mulus dari level regulasi pusat, pengelolaan portofolio investasi, kapasitas produksi pabrik, hingga skema hilirisasi riset ke pasar komersial.
Anggia mengingatkan bahwa ruang kompetisi di pasar farmasi kini kian ketat. Menurutnya, BUMN Farmasi tidak boleh lagi hanya pasif mengandalkan ceruk pasar tradisional yang sudah ada, melainkan wajib memacu inovasi produk baru dan meningkatkan standardisasi mutu agar mampu bersaing head-to-head dengan produk impor.
Penyehatan Finansial dan Skala Ekonomi Berkelanjutan
Sektor finansial menjadi fondasi utama yang diuji dalam program transformasi ini. Managing Director Business PT Danantara Asset Management, Febriani Eddy, menyatakan bahwa peta jalan kemandirian farmasi harus berakar dari struktur keuangan korporasi yang sehat. Pihaknya berkomitmen melanjutkan program penyehatan BUMN Farmasi yang telah masuk dalam daftar 21 program strategis sejak tahun lalu.
Febriani memaparkan bahwa penciptaan ekosistem industri yang berkelanjutan memerlukan komitmen bertahap, terutama dalam membangun skala ekonomi yang ideal agar produksi bahan baku lokal bisa efisien secara komersial.
Fasilitas produksi PT Phapros Tbk di Semarang sendiri memiliki rekam jejak panjang sejak 1954 dengan portofolio lebih dari dua ratus jenis produk, termasuk Antimo yang merajai pasar di kategorinya. Selain menyuplai kebutuhan nasional, Phapros aktif menjalankan skema contract manufacturing dan penetrasi pasar ekspor ke Kamboja, menjadikannya model rantai pasok yang relevan untuk menopang ketahanan obat mandiri.
Tren Positif Kinerja Keuangan Sektor Farmasi
Upaya transformasi hulu-hilir ini mulai memperlihatkan indikasi pemulihan pada performa finansial entitas anak usaha. Pada kuartal pertama tahun ini, anak perusahaan PT Kimia Farma (Persero) Tbk tersebut berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih senilai Rp761,5 juta.
Capaian positif pada awal tahun ini dinilai menjadi indikator awal yang krusial bagi keberhasilan agenda restrukturisasi BUMN farmasi nasional. Penguatan kinerja ini diharapkan memperkokoh daya saing korporasi negara di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.
Pertemuan strategis ini juga diisi dengan pemaparan Strategi Ketahanan Industri Farmasi Nasional oleh Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya. Diskusi interaktif tersebut turut dikawal langsung oleh Deputi Bidang Peningkatan Nilai BUMN BP BUMN Endra Gunawan, Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam, serta Direktur Utama Phapros Intan Abdams Katoppo. (hdl)










