Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Bank Jatim dan Bank NTT Perkuat Sinergi BPD Lewat Kerja Sama Remitansi Internasional untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan
  • Rano Karno Resmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan Uji Coba Open Dining, Perkuat Wisata Kota Tua
  • Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih, Tarif Maksimal Rp5.000 Kini Diawasi Ketat
  • BNI Dukung Festival Seni & Bazaar MSI 2026, Perkuat Pelestarian Budaya, UMKM, dan Ekonomi Kreatif Indonesia
  • Pramono Anung Dukung JF3 2026, Perkuat Ekonomi Kreatif Jakarta Menuju Kota Global
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Esai»Obituari Hernani Sirikit Syah (1960-2022): Pamit abadi Mbak Ikit

Obituari Hernani Sirikit Syah (1960-2022): Pamit abadi Mbak Ikit

Esai Hendro D. Laksono27 April 2022
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Satu hari di pertengahan 2021 lalu, Mbak Ikit—panggilan saya kepada Hernani Sirikit Syah—mengontak, “Uda Akmal, saya ingin menerbitkan kumpulan cerpen. Apakah Uda bersedia memberikan testimoni?” Tentu saja saya bersedia. Mbak Ikit jurnalis senior hampir satu dekade di atas saya dan dikenal juga sebagai penyair. Sehingga ketika dia memberikan saya kesempatan untuk membaca naskah, itu merupakan satu kehormatan.

Kumcer berjudul Lelaki dari Masa Lalu yang terdiri dari 17 cerpen itu terbit pada Agustus 2021 dengan saya dan Dewi “Dee” Lestari sebagai pemberi endorsement di sampul belakang. Salah satu cerpen pada antologi itu yang berjudul “Perempuan Suamiku” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas 1999.

Sebetulnya tadi pagi–pukul 07.15 WIB–saya mendapat miscall dari Mas Chairul Anam, suami Mbak Ikit, yang mengulangi lagi panggilan empat menit kemudian. Namun saya tetap tak bisa menerima panggilan karena sedang terlelap setelah semalaman melek sampai subuh. Saat terbangun dua jam kemudian, lini masa saya sudah penuh kabar duka cita wafatnya Mbak Ikit.

Pikiran saya spontan mengembara ke dalam sebuah larik sajak karya Mbak Ikit. “ Dan ketika kau buka matamu/aku mungkin sudah akan tiada.” (“Aku Ingin Menjadi Malam”, 2001). Sajak itu tentu saja bukan ditulis untuk saya. Namun kesamaan kondisi yang saya alami dengan napas sajak membuat saya terperenyak. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Di salah satu WAG, seniman-budayawan Jaya Suprana menulis, “Saya berbelasungkawa atas wafatnya Ibu Sirikit. Bangsa Indonesia kehilangan seorang penulis yang berpihak ke kaum tertindas.”

Saya baru bertukar kabar dengan Mas Anam kemarin pagi (Senin, 25/4) yang mengabarkan kondisi terkini Mbak Ikit. “Menurut dokter semakin menurun karena penyebaran Ca-nya, antara sadar dan tidak. Mohon disampaikan kepada kawan-kawan terima kasih tak terhingga kami atas sumbangsihnya dan memohon untuk bisa memaafkan dengan ikhlas segala kesalahan Ibu Hernani Sirikit selama ini.”

Beberapa tahun ini Mbak Ikit memang berjuang keras melawan kanker hati yang dalam pekan-pekan terakhir sudah menyerang empedunya, membuat ibu dua anak dan nenek tiga cucu ini harus dirawat RS Haji Surabaya. Dalam proses pengobatan, beliau sedikitnya sudah menjalani 8-9 kemoterapi atau bahkan lebih banyak lagi.

Komunikasi kami dua tahun terakhir cukup intens, meski kami belum pernah bertemu dan bicara tatap muka. Awalnya, saya mengenal Mbak Ikit melalui tulisan-tulisannya di mailing-list Jurnalisme yang dikelola admin Farid Gaban, Dandhy Dwi Laksono, dan Suwandi Ahmad, sekitar tahun 2012. Mbak Ikit termasuk anggota yang aktif posting di milis itu. Dia acap berbagi pengalaman membangun The Brunei Times dan menjadi wakil pemimpin redaksi harian di negeri jiran tersebut. Sementara sebagai kritikus sosial dan penulis opini, pendapat-pendapatnya selalu tajam tanpa takut dalam mengkritisi rezim dan policy yang dijalankan.

Saya baru mengerti mengapa Begawan Sastra Indonesia, Prof. Dr. Budi Darma (1937-2021) dalam obrolan dengan saya di awal tahun 2000-an pernah memuji Mbak Ikit sebagai muridnya yang hebat. “Bakat Sirikit sebagai prosais sangat besar. Tapi tampaknya dia lebih menyukai dunia jurnalisme dan menulis sajak. Tidak apa-apa juga,” ujar Pak Bud. “Kemampuan menulisnya itu sangat membantu karier jurnalistiknya.”

Waktu itu Mbak Ikit juga menjadi penerjemah. Salah satu buku yang dialihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia adalah Biografi Muhammad karya Karen Armstrong yang menjadi global best seller. Setahun kemudian, Mbak Ikit menerjemahkan karya David T. Hill dan Krishna Sen dengan judul Budaya, Media, dan Politik di Indonesia.

Kemampuan menulis dan menerjemahkan bahasa Inggris dimatangkannya saat menjadi mahasiswa pascasarjana di University of Westminster, London, Inggris (2002). Setelah itu dia malang melintang magang dan bekerja di beberapa media massa di negeri tempatnya menuntut ilmu dan Amerika Serikat. Sedangkan gelar doktor ilmu bahasa diraihnya dari Universitas Negeri Surabaya melalui disertasi berjudul “Naming and Labelling in Terrorism News Report” (2018).

Mbak Ikit sudah melangkah jauh dari awal kariernya sebagai. wartawati Surabaya Post (1984-1990, 2007), SCTV-RCTI Biro Surabaya (1990-1996), dan The Jakarta Post (1996-2000). Di tahun 1999, Mbak Ikit mendirikan Lembaga Media Watch dan belakangan Sirikit School of Writing (2012).

Di luar kiprah sebagai jurnalis, Mbak Ikit aktif bertungkus lumus dengan komunitas seniman Surabaya. Dia pernah menjadi Ketua Bengkel Muda Surabaya, Ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, dan Ketua Presiden Dewan Kesenian Surabaya. Sampai akhir hayatnya ketika kondisi kesehatannya sudah menurun jauh, Mbak Ikit tetap aktif sebagai penasihat/pembina di Bengkel Muda Surabaya dan Dewan Kesenian Surabaya.

Satu hari di bulan Februari 2021, sebuah tulisan Mbak Ikit mengejutkan saya. Tulisan berupa review novel sci-fi saya Disorder (Bentang Pustaka, Desember 2020) itu muncul di beberapa media online seperti Viva.co.id dan Republika.id . “Novel yang paling diantisipasi tahun ini, memiliki kesempurnaan di setiap elemennya. Ide ceritanya original, otentik, _out-of-the-box,” tulisnya. “Setiap detil meyakinkan … sebagai pembaca, saya tidak menduga akhir cerita. Mengejutkan, tapi masuk akal.”

Merasa tersanjung oleh ulasan seorang jurnalis-penulis senior-doktor ilmu bahasa, saya mencoba menggali pendapatnya lebih dalam dan Mbak Ikit berkenan menjelaskan berdasarkan kajian akademis yang ditekuninya. Pada akhir pembicaraan dia mengatakan, “Saat ini dua penulis Indonesia favorit saya adalah Dee Lestari dan Uda Akmal. Karya-karya kalian menunjukkan eksplorasi dalam penemuan diksi, frasa dan tetap dalam bentuk kalimat-kalimat indah yang senantiasa berakhir dengan rima.”

Tampaknya kalimat pengunci itulah yang menjadi dasar baginya untuk meminta saya dan Dee menuliskan testimoni bagi antologi cerpennya yang saya sebutkan di atas. Apa yang saya tulis bagi jurnalis-penulis yang rendah hati ini?

“Tokoh dalam cerpen-cerpen Sirikit Syah pada antologi ini ( Lelaki dari Masa Lalu) adalah perempuan-perempuan yang kompleks. Berpendidikan tinggi, mobilitas internasional, kadang berfungsi sebagai kepala keluarga atau sosok lajang mandiri, namun selalu menempati posisi subordinasi dalam relasi interpersonal dengan lelaki-lelaki yang mereka cintai. Sebuah kritik halus terhadap dunia patriarki.”

Sedang Dee Lestari memberikan testimoni, “Cerita-cerita Sirikit Syah mengungkap dunia perempuan dewasa dan segala permasalahannya dengan intim serta personal. Pergelutan antara keinginan vs kebutuhan, identitas serta aktualitas diri. Reflektif dan menghibur.”

Menjelang masuk Ramadhan, di salah satu WAG yang kami ikuti bersama Mbak Ikit sempat mengisahkan kehidupan masa remaja dan dewasa yang tidak dekat dengan agama Islam karena sejak kecil dididik dan dibesarkan dalam bingkai agama yang longgar oleh orang tua. “Saya baru mulai bisa mengaji di umur 50-51, belajar serius sampai bisa khatam. Alhamdulillah setelah bisa khatam yang pertama kali setelah itu mencoba konsisten mengaji dan khatam lagi dan lagi,” katanya.

Sungguh satu episode kehidupan yang menyentuh, bagaimana dalam sepuluh terakhir hidupnya yang penuh dinamika tinggi dan fluktuasi, Mbak Ikit kembali dengan suka cita menekuni kalam ilahi dalam kitab suci.

Dengan kepulangan Mbak Ikit ke Negeri Keabadian di bulan suci Ramadhan, in syaa Allah beliau termasuk nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang) seperti Allah firmankan, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS 89: 27-30). (hdl/antara)

(Penulis adalah sosiolog)

Add Pilar.ID as a preferred source on Google+

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id
Hernani Sirikit Syah jurnalis senior
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Kristina Yoko

J Trust Bank Gandeng Pegolf Kristina Yoko, Perkuat Dukungan Atlet Indonesia Menuju Panggung Dunia

19 Juli 2026
VinFast resmi membuka 20 dealer motor listrik di kota besar Indonesia pada Juli 2026. Konsumen bisa menjajal lini produk hingga layanan tukar baterai gratis.

VinFast Buka 20 Dealer Motor Listrik di Indonesia: Hadirkan Model Evo, Feliz II, dan Viper

18 Juli 2026
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memperkuat ekosistem Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi untuk menjaga pasokan sembako dan LPG 3 kg.

Khofifah Tinjau Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi: Pastikan Stok Sembako dan LPG 3 Kg Aman

18 Juli 2026
Moh. Zaki Ubaidillah

Debut Manis di Japan Open 2026: Zaki Ubaidillah Tumbangkan Wakil Denmark dan Lolos 16 Besar

17 Juli 2026
Secure Parking Indonesia sukses mengurai kepadatan mobilitas 6,1 juta pengunjung dan transaksi Rp8,2 triliun selama 32 hari Jakarta Fair 2026.

Sukses Kelola Parkir 6,1 Juta Pengunjung Jakarta Fair 2026, Begini Strategi Secure Parking Meta

16 Juli 2026
Berita Lainnya
Bank Jatim dan Bank NTT menjalin kerja sama layanan remitansi internasional untuk memperluas akses keuangan, mendukung PMI, dan memperkuat sinergi BPD.

Bank Jatim dan Bank NTT Perkuat Sinergi BPD Lewat Kerja Sama Remitansi Internasional untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan

24 Juli 2026
Rano Karno meresmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan uji coba Open Dining untuk memperkuat wisata, budaya, dan ekonomi kreatif Jakarta.

Rano Karno Resmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan Uji Coba Open Dining, Perkuat Wisata Kota Tua

23 Juli 2026
Pemkot Surabaya memasang portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih untuk menjamin tarif maksimal Rp5.000, transparansi, dan keamanan kendaraan.

Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih, Tarif Maksimal Rp5.000 Kini Diawasi Ketat

23 Juli 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.