Jakarta (pilar.id) – Pengamat politik Hendri Satrio menilai, Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu melakukan reshuffle kabinet saat ini. Hal itu dilakukan untuk menuntaskan janji kampanye Jokowi yang belum terlaksana.
“Banyak, lho utangnya, banyak! Yang aneh-aneh banyak,” kata Hendri, di Jakarta, Sabtu (11/6/2022).
Founder KedaiKOPI ini mengatakan, salah satu proyek teraneh Jokowi adalah Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, menurut Hendri, reshuffle sebaiknya bertujuan untuk memperbaiki kinerja pemerintahan.
Reshuffle, kata Hendri, seharusnya bukan bertujuan untuk mencari dukungan dalam rangka memuluskan 3 periode kepemimpinan Jokowi. “Kalau 3 periode nggak bisa, presidennya saya yang pilih lah, kayak gitu-gitu. Janganlah kayak gitu-gitu,” kata pria yang akrab disapa Hensat ini.
Sementara itu, politikus Partai Demokrat Didi Irawadi mengatakan, menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) sebaiknya memiliki budaya malu. Ketika merasa gagal mengemban tugas negara dan sudah tidak fokus bekerja lagi, ia menyarankan untuk mundur dari kursi jabatannya.
“Nggak usah nunggu reshuffle,” kata dia.
Salah satu yang menjadi sorotan Didi adalah kinerja Kementerian Perdangan (Kemendag) yang menyisakan sejumlah persoalan, terutama berkaitan dengan minyak goreng. Harga minyak goreng yang mahal masih menjadi keluhan masyarakat, terutama di pelosok atau pedesaan.
“Kenapa harus untung-untungan menunggu dipertahankan, kalau punya budaya malu jauh lebih terhormat kalau mundur,” kata dia.
Selain itu, ia juga mencermati sejumlah menteri yang dengan bebas menggunakan fasilitas negara untuk kampanye menjelang tahun politik. Seharusnya, ketika diangkat menjadi seorang menteri harus mencurahkan waktu dan hidupnya sampai akhir masa jabatan untuk bangsa dan negara.
“Menteri harus fokus, bukan berselancar ke mana-mana. Ini kan jadi persoalan,” kata Didi. (ach/fat)










