Jakarta (pilar.id) – Komoditas gaharu sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Kini, komoditas ini tetap memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Salah satu sentra gaharu adalah Mangga 2 Square, Jakarta Utara. Menariknya, mayoritas penjual dan pembeli berasal dari negara-negara Arab.
Salah satunya Amar yang berasal dari Yaman. Ia menetap di Indonesia sejak 6 tahun lalu dan bersama ayahnya membuka toko gaharu sejak 2018 lalu, di Hall B Mangga 2 Square, Jakarta Utara.
Amar menceritakan, ada dua tipe gaharu yang dijualnya. Yaitu, produk yang dihasilkan dari pabrik dan alami. Produk pabrik biasanya dijual lebih murah. Produk gaharu dari pabrik ada dua tipe, pure dan biasa.
“Kalau yang pabrik mulai dari Rp600 sampai Rp7-8 juta per kilogram. Kalau yang pure lebih mahal,” kata Amar kepada Pilar.id, di Jakarta, Minggu (17/7/2022).
Sementara itu, untuk produk gaharu alami dijual dengan harga mulai dari Rp3 juta hingga Rp100 jutaan. Produk gaharu alami memiliki beberapa tingkatan, mulai dari super, double, trouble hingga king. Berdasarkan asalnya, gaharu dari Merauke paling digemari orang Arab Saudi. Sedangkan orang Kuwait, Qatar, dan Yaman, lebih suka produk gaharu asal Kalimantan.
“Ada Merauke, ada Kalimantan, ada Sumatra, ada Sulawesi. Ada orang Saudi beli Kalimantan tapi sedikit. Saya lebih suka yang Kalimantan,” katanya.
Penjualan gaharu ini sempat terganggu dengan adanya wabah Covid-19. Sejak Covid-19, toko milik Amar di Mangga 2 Square ditutup dan fokus eskpor gaharu ke negara-negara Arab.
“Beda-beda, kadang 100-120 kilogram di ekspor, kadang 300 kilo. Adapula 50 kilo. Karena pasar gaharu naik turun,” katanya.
Amar mengungkapkan sejak Covid-19 melanda, penjualan gaharu turun drastis. Bila sebelum pandemi bisa menjual hingga 20Kg, tapi sekarang tak lebih dari 5Kg per hari. Ia juga baru membuka tokonya kembali saat Ramadhan 2022 lalu. “Kalau sekarang 3-5 kilo per hari,” kata dia.
Pantauan Pilar.id di Mangga 2 Square nampak sepi. Banyak toko yang tutup dan pengunjungnya juga tak banyak. Namun, Amar optimistis bulan depan akan banyak turis dari Arab berdatangan ke Indonesia karena berkenaan dengan hari libur di sana.
“Karena setiap tahun sebelum corona, dimulai dari bulan 8, Agustus mulai ramai. Mulai orang dari sana, dari Saudi dari Arab, kesini buat beli gaharu. Kalau libur ramai di sini,” tandasnya. (ach/hdl)










