Jakarta (pilar.id) – Ledakan meriam milik Yon Armed-7/105 GS saat detik-detik proklamasi seakan menjadi nostalgia zaman perang. Meriam tersebut diletakkan di kawasan Monas, Jakarta Pusat. Masyarakat memadati area meriam dan menunggu saat-saat dibunyikan sebanyak 17 kali.
“Ini memang untuk tamu negara, pokoknya ini untuk 17 Agustus sebanyak 17 butir,” kata Pamu Raipur A Letnan II Asep Budi, kepada Pilar.id, di Jakarta, Rabu (17/8/2022).
Menurut Asep, selain dibunyikan pada saat perayaan hari kemerdekaan RI, meriam ini juga untuk memyambut tamu negara. Biasanya meriam akan ditembakkan sebanyak 19 kali untuk menyambut perdana menteri. Kemudian 21 kali untuk menyambut kepala negara, seperti presiden.
“Setiap ada tamu negara, pasti kita melaksanakan penembakan kehormatan,” jelasnya.
Biasanya, lanjut Asep, untuk membunyikan meriam tersebut harus menunggu protokol kepresidenan. “Baru kita adakan latihan, biasanya di Bogor,” terangnya.
Adapun meriam 75 mm ini memiliki karakteristik panjang laras 1.360 mm, tinggi 1.200 mm, lebar 1.050, berat 415 Kg, penggunaan munisi efektif 10 butir/mm, dan merupakan buatan dari Switzerland. Untuk munisi kaliber 77 mm, memiliki panjang 184 mm, berat 650,5 gram, bahan kelongsong almunium, dan jenis isian blank powder.
Pertunjukan terakhir adalah parade pesawat yang melintasi Monas dan Istana Merdeka. Sebanyak 14 pesawat membentuk pola angka 77 dan 8 helikopter mengibarkan 2 bendera. (Akh/din)










