Yogyakarta (pilar.id) – Salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di Kabupaten Gunung Kidul yang masih lestari hingga saat ini adalah Upacara Adat Cupu Kyai Panjala.
Tradisi yang sudah turun-temurun sejak ratusan tahun lalu ini diyakini sebagai simbol atau alat peramal untuk kejadian bangsa Indonesia dalam setahun ke depan.
Upacara ini, dilakukan malam Selasa Kliwon atau Senin (10/10/2022) di Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul,.
Juru Kunci Cupu Kyai Panjala, Dwijo Sumarto menuturkan Cupu Kyai Panjala berawal dari nenek moyangnya bernama Wonongso dan memiliki anak bernama Kyai Seyek.
Suatu hari, katanya, Kyai Seyek merasa lapar saat pulang bermain. Ibu Kyai Seyek sedang mendinginkan nasi dengan satu tangan memegang kipas, sementara tangan lainnya membolak-balikan nasi menggunakan centong nasi.
Kemudian, Kyai Seyek mengambil nasi yang tengah didinginkan sehingga membuat sang ibu marah dan memukulnya menggunakan centong.
Kejadian tersebut membuat Kyai Seyek kabur tanpa pamit menuju arah selatan. Hingga beberapa hari tak kembali, akhirnya sang ibu menanyakan keberadaan Kyai Seyek pada petapa.
Petapa ini memberikan tiga syarat antara lain, Ibu Kyai Seyek harus melakukan puasa tujuh hari tujuh malam, membawa sebuah jala dan nasi satu genggam untuk dilempar ke laut selatan.
Setelah melakukan syarat tersebut, sang Ibu berjalan ke Pantai Gesing dan mendapati seorang pria yang tertangkap dalam jaring, yang kemudian disebut Kyai Panjala karena tertangkap jala. Dan diperoleh tiga cupu atau guci kecil dalam sekotak yakni Semar Tinandu, Palang Kinantang, Kenti Wiri. Bentuk cupu berasal dari bahan keramik, seperti padasan air wudhu namun tidak ada tempat untuk keluar air.
“Palang Kinantang persis teko tapi tidak ada untuk keluar air dan tidak ada pegangan, Kenti Wiri sama seperti Semar Tinandu, warnanya seperti telur puyuh blorok blorok. Nah, siapa yang bisa membukanya maka dia berhak mewarisinya dari generasi ke generasi,” terang Dwijo, Senin (10/10/2022).
Cupu Kyai Panjala selanjutnya dibungkus dalam kurang lebih 300 lembar kain putih secara turun temurun. Kain ini, dibuka untuk membaca tanda berupa gambar, angka atau huruf yang muncul pada kain, yang dilakukan setiap satu tahun sekali pada malam Selasa kliwon mangsa kepapat (empat) pada penanggalan Jawa.
“Kain petak wujud putih bersih tapi ada engkok-engkokipun, sebelum diumumkan trah harus memahami dengan seksama dan perlu dicermati oleh trah, kalau ragu-ragu ada penyengkuyungnya, kalau tidak ada ragu-ragu diumumkan kepada masyarakat,” ucap Dwijo.
Adapun simbol atau lambang yang muncul pada tahun 2022 ini, antara lain Sisih kulon ono huruf L, Sisih kidul kulon ono gambar keris, Sisih wetan ono ndas singi, Sisih lor lare ingkang rambute dowo, Kemul setunggal lembar kotor, trotol.
Kemudian Sisih lor ono priyayi sepuh wadon, ngagem jubah tradisi, Sisih lor kulon ono gambar wit gede sik tanpo godong, Sisih kidul wetan ono kewan tikus, Sisih lor kulon ono gambar wayang prabu basudewa, Sisih lor ono huruf TNIT, Sisih kidul kulon ono sawijing angka 4t, Sisih lor ono gambar pawestri podo adu arep, Kidul wetan ono gambar sirah ndas sapi, Kemule selembar nglemek utawi teles.
Sisih wetan ono gambar bintang 3, Bethara guru, Kidul kulon bathar kresna, Kidul wetan ono telapak kaki, Sisih lor wong wadon nganggo rukuh karo obor, Sisih kidul wetan ono gambar pulau pulau, Sisih lor kulon betara dorno, Sisih lor kulon ono gambar IGW.
Dilanjutkan Kidul wetan kemule trotol trotol, Sisih kidul ono gambar jago marep ngulon, Sisih kidul ono gambar ndas jaran, Sisih kidul ono gambar wong wadon arepe ngidul, Sisih kulon bethara guru, Sisih lor ono gambar lele gede, kiro-kiro 2 meter, Sisih lor ono angka 89, Sisih wetan ono ongko 11.
Sisih wetan ono sirah uwong madep ngidul, Sisih kidul ono woh jambu, Sisih wetan ono huruf angka 2 kuwalik, Sisih kulon ono angka 23, Sisih wetan ono gambar arca budha karo gambar telapak tangan, Sisih kidul ono gambar sono wit jambu.
Sisih wetan ono tulisan arab, Sisih kulon ono gambar bajing marep ngalon, Sisih kidul ono gambar wong olahraga senam, Kemul garing, sik nglemek namung 1, Sisih kulon ono laler, Sisih wetan ono bedil laras panjang, Sedoyo cupu tertib jejeg. (riz/hdl)


