Jakarta (pilar.id) – Managing Director Political Economic and Policy Studies (PEPS) Prof Anthony Budiawan mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia pada 2023 diperkirakan akan suram. Hal itu disebabkan, rezim inflasi Indonesia saat ini yang dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).
“Kecuali apabila Bank Indonesia (BI) berani melepas spekulatif ketergantungan terhadap kenaikan suku bunga tersebut, dan berani menciptakan capital auto sendiri agar perekonomian nasional tidak mudah terkontraksi,” tegas Anthony, Kamis (20/10/2022).
Menurutnya, saat ini ekonomi Indonesia memang masih baik-baik saja, karena tertolong dari adanya windfall profit dari harga komoditas dan batubara. Tetapi tahun 2023 belum tentu, karena kondisi secara ekonomi global mengalami resesi.
Karena itu, ia menilai menaikkan suku untuk mengatasi resesi ekonomi, bukanlah solusi yang tepat. Kenaikan suku bunga acuan justru akan memperparah jurang resesi dan makin memperlemah nilai tukar rupiah. “Hati-hati kalau mau investasikan barang-barang jangka panjang nanti akan terjebak suku bunga,” kata dia.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menambahkan, jika melihat proyeksi ekonomi 2023 berdasarkan dokumen The Fed yang dirilis September lalu, maka kemungkinan kisaran titik tengah suku bunga berada di level 4,5 persen. Namun, Tauhid juga memprediksi bakal terjadi kenaikan hingga lebih dari 100 basis poin dari sekarang. Hal itu akibat permintaan masyarakat cukup tinggi dari sisi konsumsi.
“Sementara, inflasi berkepanjangan, dan ini mengakibatkan The Fed juga menaikkan tingkat suku bunga. Masalahnya ini kan The Fed menjadi acuan suku bunga dan putaran uang di pasar keuangan yang cukup besar,” tuturnya
Kondisi ini, kata Tauhid, akan menimbulkan peningkatan tingkat suku bunga secara umum di berbagai negara di Eropa. Bahkan, mereka sudah teriak untuk mengatasi inflasi yang berkepanjangan mulai dari kenaikan harga energi hingga pangan. Tentu saja ini memberikan implikasi ke Indonesia dari situasi dunia melalui jalur suku bunga dan nilai tukar.
Katakanlah The Fed ini, lanjut Tauhid, menaikkan tingkat suku bunga tahun depan, maka hal itu akan membuat arus modal keluar atau capital outflow cukup tinggi pada 2023. Akibatnya, nilai tukar rupiah tahun depan akan jauh lebih buruk dari kondisi sekarang.
“Ini yang dikhawatirkan mungkin berdampak terhadap banyak hal, termasuk kondisi perusahaan yang katakanlah punya utang cukup besar dalam mata uang dolar AS,” jelasnya.
Sementara ekonom senior Rizal Ramli memprediksi inflasi pada tahun ini bisa menembus 5,5 persen. Namun angka tersebut hanya secara umum, sedangkan inflasi untuk makanan bisa lebih tinggi.
“Inflasi biasa 5,5 persen, sementara inflasi makanan yang terpenting untuk rakyat dan buruh sebelum kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sudah 13,5 persen. Ini jelas anti-Pancasila, anti-NKRI, kalau sikapnya kayak begini,” tutup Rizal. (ach/din)

