Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Chelsea Pertimbangkan Rekrut Jarrod Bowen, Bintang West Ham yang Jadi Incaran Usai Degradasi
  • Sambut Piala Dunia 2026, Telkomsel dan TVRI Hadirkan Bola Gembira MAXStream TV, Siarkan 104 Pertandingan hingga Pelosok Indonesia
  • Pakar Linguistik UNAIR Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Daerah di Sekolah
  • Polres Probolinggo Siagakan 92 Personel Amankan Yadnya Kasada 2026 di Gunung Bromo
  • Tim Bulutangkis Polri Juara Umum SEA Police Badminton Championship 2026, Borong 4 Emas dan 2 Perak di Kamboja
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Feature»Cagar Alam Pegunungan Arfak, Suaka Flora di Tanah Papua

Cagar Alam Pegunungan Arfak, Suaka Flora di Tanah Papua

Feature Titik Kartitiani1 November 2022
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Lanskap sebelum masuk Distrik Anggi dengan landmark rumah adat Arfak (foto: Titik Kartitiani, pilar.id)

Manokwari (pilar.id) – Supriyadi Nepal, 37 tahun, sopir mobil double gardan yang kami sewa untuk mengantar ke Pegaf memenuhi bak belakang dengan perbekalan kami ditambah dengan 4 jerigen bahan bakar.

Nepal sudah 9 tahun merantau dari tanah asalnya Enrekang ke Manokwari untuk menjadi sopir di medan-medan yang tak umum. Ia salah satu sopir berpengalaman menyusuri jalanan Pegaf yang bergunung-gunung.

Sopir yang mengetahui lekuk jalanan dan perbukitan diperlukan sebab sebelumnya, kami mendengar kabar bahwa truk yang memuat penambang emas menghatam tebing. Kecelakaan itu menewaskan 15 orang.

Jaraknya sebenarnya hanya 50 kilometer namun harus ditempuh lebih dari empat jam. Lama perjalanan sulit diprediksi sebab ada beberapa jalan yang masih dalam perbaikan, beberapa ruas pun masih ada yang makadam. Selebihnya, kerap terjadi longsor yang menutup akses.

“Ayam satu, ayam satu. Ada di posisi tikungan,” kata Nepal berkomunikasi melalui HT dengan sesama sopir. Ada sekitar 25-an kendaraan double gardan yang beroperasi mengangkut penumpang dari Manokwari ke Pegaf. Untuk ruas jalan tertentu hanya bisa dilalui satu kendaraan sehingga perlu koordinasi dengan sesama sopir.

Nepal berkolaborasi dengan pemandu, Yohanes Prawar, 42 tahun. Anis, panggilan Yohanes, sesungguhnya bukan pemandu. Pekerjaannya memasang saluran air di Pegaf. Harapan kami, dia mengenal masyarakat Pegaf sebagai pintu masuk kami untuk liputan.

Ragam sayuran yang dijual di Distrik Anggi (foto: Titik Kartitiani, pilar.id)

“Sebenarnya bisa 3-4 jam. Tapi kadang-kadang jalan longsor, jadi tidak bisa diprediksi,” kata Nepal. Pagi itu, awal bulan Juni 2022, kami menyusuri CA Arfak selama 8 hari atas dukungan Pulitzer Center melalui Rainforets Journalism Funds.

Saya bersama dengan Yuda R. Yudistira, peneliti anggrek dan fotografer menyusuri CA Arfak di kabupaten pemekaran dari Manokawari sejak 2012 ini masih dalam pengembangan sehingga banyak fasilitas yang belum ada, termasuk pompa bensin. Untuk kebutuhan dalam jumlah banyak, maka membawa dari Manokwari.

Menurut Nepal, paket wisata untuk Arfak khususnya melihat dua danau kembar yaitu Anggi Gida dan Anggi Giji sudah terbiasa dijalani. Ada yang tidak menginap, ada yang menginap semalam di dekat danau, dan biasanya perjalanan lebih dari 3 hari dilakukan oleh peneliti.

Baca Juga  Jenazah Korban Banjir Bandang di Pegunungan Arfak Berhasil Diidentifikasi Tim DVI Polda Papua Barat

Arfak memang surga para peneliti botani. Publikasi ilmiah yang kami temukan tentang flora Arfak tertanda abad ke-xx. Hingga kini, Arfak masih magnet bagi para peneliti botani sebab masih banyak spesies tumbuhan dan satwa yang belum teridentifikasi.

Lanskap Danau Anggi Giji (foto: Titik Kartitiani, pilar.id)

Secara geografis, CA Arfak membentang dari Pulau Papua Bagian Kepala Burung pada koordinat 133°460’ – 134°150′ E, 1°00′ – 1°30’ S dengan ketinggian antara 15mdpl-2.900mdpl.

Secara administrasi wilayah pemerintahan, Cagar Alam Pegunungan Arfak terdiri dari 8 distrik (kecamatan) yaitu Menyambouw, Membey, Hingk, Tanah Rubuh, Warmare, Manokwari Selatan, Ransiki, dan Oransbari Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat.

Meniti Distrik Anggi

Anggi adalah kawasan pusat pemerintahan senyap di ketinggian 2.000mdpl. Wajah Anggi adalah wajah bangunan baru dan infrastruktur yang baru dibangun. Sejak pembentukan Kabupaten Pegaf tahun 2012, fasilitas pemerintahan dan infrastruktur jalan dibangun.

Bangunan pemerintah tampak megah namun lengang. Tidak banyak aktivitas di kantor-kantor pemerintahan dalam keseharian kecuali ada perhelatan tertentu.

Kantor yang paling ‘hidup’ dan 24 jam buka adalah markas Koramil 1801-09/Anggi dan Kantor Polres Anggi. Kami diterima oleh Danramil Letda Inf. Pius Huik dan Sertu Wahyudi yang membantu kami untuk masuk ke beberapa wilayah adat yang tak diketahui pemandu kami.

Bunga Arfak Rhododendron Konori (foto: Titik Kartitiani, pilar.id)

Di kantor Koramil inilah kami menginap beberapa hari sebab belum ada penginapan komersial. Bila ada yang berkunjung ke Anggi, biasanya mereka buka tenda di atas atau menginap di rumah penduduk.

Namun perlu dicatat, harus membawa peralatan yang memadahi untuk bertahan di ketinggian 2.300mdpl-2.900mpdl dengan suhu kadang drop hingga di bawah 5 derajd celcius.

Perlu diingat, bila ingin mengadakan eksplorasi atau beraktivitas di CA Arfak harus mendapatkan Simaksi (Surat Izin Masuk Wilayah Konservasi) yang bisa didapat di BKSDA Manokwari. Surat ini tidak dipungut biaya, hanya harus mengurus jauh-jauh hari agar pada saat hari H kedatangan kita sudah siap.

Ragam Flora di Danau Kembar

Hal yang langsung dinikmati oleh para wisatawan yaitu pemandangan alam yang memikat. Sepasang danau kembar yaitu Danau Anggi Gida (danau perempuan) dan Danau Anggi Giji (danau laki-laki) merupakan spot foto yang menarik untuk memotret.

Baca Juga  Jenazah Korban Banjir Bandang di Pegunungan Arfak Berhasil Diidentifikasi Tim DVI Polda Papua Barat

Selain pemandangan, fokus kami memang memotret keragaman flora di kawasan CA Arfak. Menurut Budi Mulyanto, Kepala BBKSDA Papua Barat, flora ikonik di CA Arfak adalah pisang raksasa (Musa ingens) dan flame of irian (Mucuna novaeguinea).

Ketika masuk ke hutan bahkan tak jauh dari jalan raya, kami menemukan keragaman flora yang sangat tinggi dan banyak di antaranya merupakan endemik Arfak. Misalnya aneka jenis sarang semut, bunga rodhodendron, dan tentu saja ragam anggrek. Bahkan beberapa kemungkinan adalah spesies yang belum diidentifikasikan.

Namun, ada hal mengkhawatirkan yang terlihat. Keperkasaan hutan yang tadinya nyaris tak terjamah, kini terbelah untuk infrastruktur jalan raya.

Sarang Semut Arfak Myrmecodia arfakensis (foto: Titik Kartitiani, pilar.id)

Pemekaran kabupaten yang dulunya bagian dari Kabupaten Manokwari, berdiri menjadi Kabupaten Pegunangan Arfak meminta pembangunan infrastruktur pendukung yang tak sedikit.

Alih fungsi hutan menjadi perkantoran dan rumah pegawai. Jalan dan bangunan yang dibangun membelah wilayah hutan menghadapi dilema. Di satu sisi, mempermudah akses.

Sementara di sisi berbeda, selain mengambil luasan kawasan yang menjadi habitat flora/fauna juga membuka jalan sekaligus membuka akses bagi perambah. Hal ini cukup mengkhawatirkan bila tidak didukung dengan pengawasan yang memadahi.

CA Pegunungan Arfak masih merupakan PR besar dalam menjaga keutuhannya. Menurut Budi, belum ada kantor (infrastruktur) dan personil yang ditempatkan khusus di Kawasan Arfak.

Sejauh ini, pengamanan kawasan masih berbasis kegiatan dan belum maksimal. Tak hanya itu, kurangnya data/ informasi potensi kawasan.

Meski sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dalam hal ini Universitas Papua, namun belum ada database yang memadai sehingga segala informasi yang diperlukan tersedia. Sementara ancaman terhadap kelestarian kawasan CA Pegunungan Arfak sangat tinggi.

CA Arfak merupakan sebuah ekosistem yang mewakili tanah Papua karena dihuni oleh hidupan liar (wildlife) yang dilindungi dan tempat hidup flora/fauna ikonik. Harapan kami sebagai pejalan, semoga ada strategi yang tepat agar menjadi solusi pembangunan di Arfak. (tik/hdl)

line

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id

line  

Pegunungan Arfak Suaka Flora Papua

Berita Lainnya

Sebanyak 15 jenazah korban banjir bandang di Pegunungan Arfak berhasil diidentifikasi Tim DVI dan INAFIS Polda Papua Barat.

Jenazah Korban Banjir Bandang di Pegunungan Arfak Berhasil Diidentifikasi Tim DVI Polda Papua Barat

24 Mei 2025
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Ilustrasi Bitcoin (foto: Karolina Grabowska, pexels)

Bitcoin Anjlok di Tengah Konflik AS-Iran, Pasar Kripto Global Kehilangan Triliunan Rupiah

29 Mei 2026
Naomi Osaka tampil mencuri perhatian di French Open 2026 lewat busana couture berkilau sebelum meraih kemenangan di Paris.

Naomi Osaka Curi Perhatian di French Open 2026 dengan Gaun Emas Berkilau dan Gaya Couture

28 Mei 2026
Crystal Palace menjuarai Liga Conference 2025/26 usai mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final. Gelar Eropa pertama The Eagles tercipta di Leipzig.

Crystal Palace Juara Liga Conference 2025/26 Usai Kalahkan Rayo Vallecano di Final

28 Mei 2026
Ruri Agung Wahyuono

ITS Kembangkan Strip Test Kit Pendeteksi Minyak Babi, Praktis untuk Muslim Traveler dan UMKM

27 Mei 2026
Sejumlah pesawat Garuda Indonesia sedang parkir di bandara udara (foto: Ekky Wicaksono, pexels)

Garuda Indonesia Catat OTP Haji 98,21 Persen, Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

25 Mei 2026
Berita Lainnya
Jarrod Bowen (sumber foto: instagram @jarrodbowen)

Chelsea Pertimbangkan Rekrut Jarrod Bowen, Bintang West Ham yang Jadi Incaran Usai Degradasi

31 Mei 2026
Telkomsel dan TVRI menghadirkan Bola Gembira MAXStream TV untuk Piala Dunia 2026 dengan akses 104 pertandingan, paket khusus, dan 100 ribu akses gratis.

Sambut Piala Dunia 2026, Telkomsel dan TVRI Hadirkan Bola Gembira MAXStream TV, Siarkan 104 Pertandingan hingga Pelosok Indonesia

31 Mei 2026
Guru Besar Linguistik Universitas Airlangga, Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum.

Pakar Linguistik UNAIR Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Daerah di Sekolah

31 Mei 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.