Yogyakarta (pilar.id) – Dosen dari Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melakukan kolaborasi riset dengan mitra untuk meneliti pengembangan kambing perah persilangan.
Disampaikan dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/7/2023), tim peneliti ini terdiri dari Ir. Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt., IPP. sebagai ketua, Dr. Yuli Perwita Sari, S.TP. sebagai anggota, serta mitra dari Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran dan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan.
Penelitian ini dilakukan sebagai tanggapan atas meningkatnya permintaan produk susu dalam negeri. Saat ini, produksi susu dalam negeri hanya dapat memenuhi 20-30 persen kebutuhan, sementara 70-80 persen masih harus diimpor dari negara lain seperti New Zealand, Belanda, dan Australia.
Selain itu, regenerasi petani dan peternak di Indonesia masih minim, meskipun sektor peternakan tetap mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif, bahkan di tengah pandemi COVID-19.
Peluang bisnis di sektor peternakan sangat luas, mencakup berbagai bidang seperti produksi, pakan, nutrisi ternak, konstruksi perkandangan, barang, dan jasa peternakan.
Industri makanan berbahan baku susu juga berkembang pesat dengan berbagai olahan yang beragam. Hal ini meningkatkan permintaan susu, dan di Indonesia, sapi perah merupakan sumber susu terbanyak.
Selain sapi perah, kambing perah hasil persilangan juga memiliki potensi yang luar biasa dan dapat dikembangkan di seluruh nusantara. Kambing perah dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri, karena memiliki daya adaptasi yang baik, kualitas susu yang unggul, dan harga susu yang cukup tinggi.
Menurut hasil uji laboratorium oleh dosen Agroindustri UMBY, kambing perah jenis Sapera menghasilkan kandungan protein susu sebesar 4,71 persen, lemak susu 6,70 persen, dan berat jenis susu 1,3139 g/ml. Harga susu kambing segar saat ini berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 35 ribu per liter.
Ir. Ajat Sudrajat, S.Pt., M.Pt., IPP. menyatakan bahwa hasil riset ini memiliki nilai signifikan bagi pemerintah, akademisi, perusahaan, dan masyarakat umum sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan dan perbaikan manajemen. Kolaborasi riset menjadi langkah tepat untuk menemukan solusi terbaik dalam pengembangan industri peternakan.
“Hasil riset ini sangat bermanfaat bagi pemerintah, akademisi, perusahaan, dan masyarakat umum. Informasi ini dapat menjadi landasan untuk pengambilan kebijakan dan perbaikan manajemen, sehingga pengembangan industri peternakan dapat berjalan lebih baik lagi,” kata Ajat. (usm/hdl)

