Yogyakarta (pilar.id) – Beragam kegiatan pada Selasa Wagen di Yogyakarta selalu menghadirkan seni budaya yang sayang untuk dilewatkan. Kegiatan rutin selapanan atau 35 hari sekali ini salah satunya menghadirkan workshop Tatah Sungging di Pintu Timur Museum Sonobudoyo Yogyakarta.
Seni tradisional wayang kulit, selain menyajikan pertunjukan yang menakjubkan juga tidak dapat dipisahkan dari proses pembuatan wayang atau seni Tatah Sungging yang unik dan satisfying.
Seperti namanya, teknik pembuatan wayang ini dengan cara di tatah yang berarti menatah atau memahat, dan sungging artinya mewarnai. Secara sederhana, teknik ini merupakan proses memahat dan mewarnai wayang kulit.
Pengrajin wayang kulit asal Dusun Gendeng, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Bantul, Suroso mengatakan proses tatah sungging diawali tatah, yakni memilih kulit yang akan dipahat, biasanya berupa kulit sapi, kambing, atau kerbau.
“Setelah itu, direndam supaya lunak dan mudah saat dibersihkan. Lalu, kulit dikerok dan dijemur sampai kering, baru kemudian di bentuk pola,” jelasnya, Selasa (29/11/2022).
Proses selanjutnya yakni menatah atau memahat kulit sesuai dengan pola dan bentuk ornamen yang telah dibuat. Suroso mengaku, setiap wayang memiliki waktu proses pengerjaan yang berbeda-beda, tergantung bentuk dan kerumitannya.
“Tinggal jenis wayangnya, kalau bikin Punokawan hanya butuh satu hari, tapi kalau misalnya bikin Rama, Janaka, Kresna itu paling tidak satu minggu. Paling lama gunungan itu sampai dua minggu,” paparnya.

Kemudian, setelah menatah rampung, biasanya proses sungging dilakukan oleh pengrajin khusus sungging.
Adalah Wahyono, pengrajin sungging yang telah berkecimpung dengan pewarnaan sejak kelas dua sekolah dasar ini dengan kelihaian tangannya menggoreskan kuas dan memadukan warna ke wayang.
“Sungging itu mewarnai. Biasanya, pewarnaanya sudah ada pakemnya tertentu, tapi juga ada tempat-tempat yang kita warna sesuai kreasi kita sendiri,” katanya di sela-sela proses sungging.
Baru setelah itu, wayang dijemur agar pewarnaan dapat kering dan menyatu sempurna ke wayang. Wahyono menjelaskan, pewarna yang dipakai biasanya berasal dari bahan alami.
Untuk warna hitam misalnya, diperoleh dari uap lampu sentir zaman dulu yang terbuat dari bahan bakar mnyak kelapa dan sumbu benang.
Adanya workshop ini, Wahyono berharap generasi muda dapat mengetahui apabila bangsa Indonesia memiliki kebudayaan yang sudah diakui dunia.
“Dan jangan sampai itu hilang, yang tahu dan yang suka malah orang orang barat. Kalau tidak ada regenerasi maka akan punah. Kita harus nguri-uri, kalau tidak nanti punah sendiri,” terangnya. (riz/hdl)



