London (pilar.id) – Setelah 20 tahun memimpin, Christian Horner akhirnya resmi mengundurkan diri sebagai CEO dan Team Principal Red Bull Racing. Keputusan ini diumumkan menyusul restrukturisasi manajemen yang menunjuk Laurent Mekies sebagai penggantinya, dan Alan Permane mengambil alih posisi Mekies sebelumnya di Racing Bulls.
Melalui pernyataan di media sosial, Horner mengungkapkan rasa emosionalnya. “Setelah perjalanan luar biasa selama dua dekade, hari ini saya mengucapkan selamat tinggal dengan hati yang berat kepada tim yang saya cintai sepenuh hati,” tulis Horner, disertai dengan penghormatan dari para pembalap Red Bull seperti Max Verstappen dan Yuki Tsunoda.
Horner, mantan pembalap dan bos tim Formula 3000, dipercaya memimpin Red Bull saat tim itu pertama kali memasuki dunia Formula 1 pada tahun 2005. Ia menjadi bos tim termuda dalam sejarah F1 saat itu—baru berusia 31 tahun.
Di bawah kepemimpinannya, Red Bull Racing tumbuh dari tim debutan menjadi raksasa F1, mengumpulkan:
- 107 pole position
- 124 kemenangan balapan
- 287 podium
- 6 gelar Konstruktor
- 8 gelar Juara Dunia Pembalap
Perjalanan Penuh Prestasi
Horner tidak lupa memberi penghargaan kepada seluruh tim dan mitra yang telah bekerja bersamanya. “Setiap dari kalian, orang-orang luar biasa di pabrik, adalah jantung dan jiwa dari semua yang telah kita capai bersama. Menang dan kalah, kita selalu berjalan bersama,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para penggemar dan pesaing di lintasan. “Dukungan kalian telah membawa tim dari awal yang sederhana menjadi kekuatan dominan di F1. Para rival juga memainkan peran penting. Tanpa mereka, tidak akan ada balapan.”
Horner menutup pesannya dengan kalimat penuh makna, “Saya pergi dengan rasa bangga atas semua yang telah dicapai dan antusiasme terhadap apa yang telah dipersiapkan untuk tahun 2026.”
Menyambut Era Baru Red Bull Racing
Kepergian Horner menandai akhir dari era yang penuh kesuksesan dan awal babak baru di bawah kepemimpinan Laurent Mekies. Dengan warisan yang begitu kuat, tantangan selanjutnya adalah menjaga dominasi Red Bull di tengah persaingan yang semakin ketat jelang perubahan regulasi besar pada musim 2026 mendatang.
Red Bull Racing kini menghadapi masa transisi penting. Mampukah mereka mempertahankan kejayaan di lintasan Formula 1 tanpa Christian Horner? Hanya waktu yang akan menjawab. (usm/hdl)







