Tokyo (pilar.id) – Mantan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menyampaikan penolakan tegas terhadap wacana kepemilikan senjata nuklir oleh Jepang. Sikap tersebut disampaikan sebagai respons atas pernyataan kontroversial seorang pejabat senior Jepang yang sebelumnya menyebut Jepang seharusnya memiliki senjata nuklir.
Shigeru Ishiba menilai bahwa kepemilikan senjata nuklir justru akan membawa lebih banyak kerugian dibandingkan manfaat bagi Jepang. Menurutnya, langkah tersebut akan memaksa Jepang keluar dari berbagai komitmen internasional, termasuk Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Ia juga menekankan bahwa kebijakan nuklir Jepang selama ini dirancang untuk mendukung kebutuhan energi secara damai. Perubahan arah menuju kepemilikan senjata nuklir dinilai berpotensi merusak fondasi kebijakan tersebut dan melemahkan kepercayaan internasional terhadap Jepang.
Pernyataan Ishiba muncul di tengah polemik politik yang berkembang setelah laporan Kyodo News pada Kamis (sebelumnya) mengungkap komentar seorang pejabat senior yang terlibat dalam perumusan kebijakan keamanan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Pejabat tersebut menyampaikan pandangan bahwa Jepang sebaiknya memiliki senjata nuklir, sebuah sikap yang bertentangan dengan prinsip non-nuklir yang selama ini dianut Jepang.
Pernyataan tersebut segera memicu kritik luas di dalam negeri, mengingat Jepang memiliki sejarah kelam terkait penggunaan senjata nuklir dan selama puluhan tahun memegang komitmen untuk tidak memiliki, tidak memproduksi, serta tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayahnya.
Sikap Shigeru Ishiba mempertegas pandangan bahwa kebijakan non-nuklir tetap menjadi pilar penting bagi keamanan nasional Jepang dan stabilitas kawasan. Ia menilai bahwa menjaga komitmen internasional dan pendekatan damai lebih sejalan dengan kepentingan jangka panjang Jepang, baik dalam konteks keamanan, energi, maupun hubungan diplomatik global. (usm/hdl)









