Jakarta (pilar.id) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengintegrasikan tiga taman di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yaitu Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser, menjadi satu kesatuan ruang terbuka hijau (RTH) bernama Taman Bendera Pusaka.
Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, M. Fajar Sauri, menjelaskan bahwa taman dengan luas sekitar enam hektare ini dirancang untuk menghadirkan harmoni ekologi di tengah kepadatan kota.
Salah satu fokus utamanya adalah mempertahankan pohon-pohon eksisting sebagai upaya menjaga sumber daya alam yang ada sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.
“Aspek ekologi menjadi pertimbangan utama. Kami mengembalikan fungsi taman sebagai paru-paru kota dan menjaga ekosistem alaminya,” ujar Fajar di Jakarta.
Mobilitas Hijau dan Akses Publik
Pakar tata kota sekaligus Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Joga, menambahkan bahwa penataan kawasan tidak hanya dilakukan di dalam taman, tetapi juga mencakup area sekitarnya untuk mendukung mobilitas hijau.
“Kami ingin warga menuju tempat hijau dengan cara yang hijau, seperti berjalan kaki atau menggunakan transportasi publik. Karena itu, trotoar akan direvitalisasi untuk menghubungkan tiga taman ini,” jelas Nirwono.
Lokasi Taman Bendera Pusaka memiliki akses transportasi publik yang strategis, termasuk jalur MRT dan layanan Transjakarta, sehingga masyarakat dapat mencapainya tanpa harus menggunakan kendaraan pribadi.
Simbol Persatuan dan Sejarah Kota
Nama Bendera Pusaka dipilih sebagai simbol semangat persatuan bangsa, terinspirasi dari rajutan sang saka merah putih yang dijahit Fatmawati. Integrasi tiga taman ini diibaratkan sebagai penyatuan ruang hijau demi kepentingan publik.
Kawasan Kebayoran Baru sendiri memiliki nilai historis tinggi. Dirancang oleh Insinyur M. Soesilo pada 1948 dengan konsep kota taman, kawasan ini mengutamakan keberadaan RTH sebagai fasilitas publik.
Selain itu, lokasinya yang berada di sekitar Blok M kini menjadi salah satu sentra ASEAN. Penataan taman dilakukan dengan standar internasional yang menekankan keberlanjutan, sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global.
“Ini adalah upaya mengembalikan sejarah kota, sejarah bangsa dengan bendera pusaka, dan sejarah internasional dengan ASEAN, sekaligus menjadikan Jakarta kota global,” pungkas Nirwono. (hen/hdl)










