Bandung (pilar.id) – Listrik tenaga surya adalah salah satu bentuk energi terbarukan yang memanfaatkan radiasi matahari untuk menghasilkan listrik.
Sesuai namanya, listrik tenaga surya sangat tergantung pada keberadaan matahari. Masalahnya, saat mendung dan tidak ada sinar matahari, apa yang akan terjadi?
Tentu, saat mendung dan tidak ada sinar matahari, listrik tenaga surya akan mengalami penurunan produksi. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya intensitas radiasi matahari yang dapat ditangkap oleh panel surya.
“Panel tenaga surya kita masih berfungsi. Pertanyaannya, seberapa banyak kelistrikan yang tersedia sehingga bisa menyalakan lampu rumah,” kata James Fenton, Direktur Florida Solar Energy Center, sebuah lembaga riset Universitas Central Florida.
Saat malam, lanjutnya, pengguna listrik tenaga surya akan menyadari bahwa suplai yang ada nyaris mendekati nol.
Panel surya hanya dapat mengubah sebagian kecil dari radiasi matahari yang tersedia menjadi listrik. Jika radiasi matahari berkurang, maka listrik yang dihasilkan juga berkurang.
Untuk mengatasi masalah ini, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah menggunakan sistem penyimpanan energi atau baterai.
Baterai dapat menyimpan listrik yang dihasilkan oleh panel surya saat kondisi cuaca cerah dan menyediakannya saat kondisi cuaca mendung atau malam hari.
Dengan demikian, listrik tenaga surya dapat digunakan secara kontinu tanpa terganggu oleh perubahan cuaca.
Selain itu, juga dapat menggunakan sistem hibrida atau kombinasi dengan sumber energi lain. Misalnya, menggunakan listrik tenaga surya bersama dengan listrik dari jaringan PLN atau genset.
Dengan sistem hibrida, listrik tenaga surya dapat digunakan sebagai sumber utama dan listrik dari sumber lain dapat digunakan sebagai cadangan atau pelengkap. Dengan demikian, kebutuhan listrik dapat terpenuhi dengan lebih efisien dan hemat biaya. (usm/hdl)




