Manila (pilar.id) – Filipina tengah menghadapi krisis cuaca ekstrem setelah dilanda rangkaian badai tropis yang memicu banjir besar, tanah longsor, dan kerusakan luas. Hingga Senin (28/7/2025) pagi, 31 orang dilaporkan meninggal dunia, 17 lainnya luka-luka, dan 7 orang masih hilang, menurut laporan resmi Dewan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC).
Bencana ini disebabkan oleh gabungan dampak dari Topan Wepa, Francisco, dan Co-May, serta pengaruh kuat dari musim hujan barat daya (southwest monsoon). Salah satu wilayah terdampak parah adalah kota Malabon, di mana penduduk terlihat harus berjalan melewati genangan banjir yang merendam jalan-jalan utama pada 25 Juli lalu.
Jutaan Warga Terdampak, Infrastruktur Lumpuh
Menurut data NDRRMC, lebih dari 1,75 juta keluarga atau sekitar 6,27 juta jiwa telah terdampak secara langsung oleh cuaca ekstrem ini. Ribuan rumah terendam banjir, akses jalan terputus, dan sejumlah wilayah terisolasi.
Sektor pertanian Filipina juga mengalami kerugian besar, dengan estimasi nilai kerusakan mencapai 790 juta peso Filipina atau setara dengan sekitar USD 13,8 juta. Sementara itu, kerusakan pada infrastruktur publik, termasuk jalan, jembatan, dan fasilitas umum, dilaporkan menembus angka 6,5 miliar peso, atau lebih dari USD 113 juta.
“Kondisi ini sangat serius. Banyak daerah mengalami kerusakan parah dan belum sepenuhnya bisa dijangkau,” ujar perwakilan NDRRMC dalam pernyataan resminya.
Status Darurat di 192 Wilayah
Sebagai langkah cepat, pemerintah Filipina menetapkan status keadaan darurat (state of calamity) di 192 kota dan munisipalitas yang terdampak langsung oleh bencana ini. Penetapan status ini memungkinkan alokasi anggaran darurat dan bantuan logistik segera digulirkan ke lokasi-lokasi terdampak.
Badan cuaca Filipina memperingatkan bahwa intensitas curah hujan masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan, dengan kemungkinan munculnya gelombang badai susulan di wilayah pesisir.
Warga di wilayah rawan banjir dan longsor diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan evakuasi dari pemerintah daerah. Sementara itu, tim penyelamat dan relawan kemanusiaan terus melakukan evakuasi dan distribusi bantuan di lokasi terdampak.
Filipina, yang secara geografis berada di jalur topan Pasifik, setiap tahunnya mengalami sekitar 20 badai tropis. Namun, dampak gabungan dari tiga sistem badai secara bersamaan seperti ini tergolong langka dan memicu perhatian global terhadap perubahan pola cuaca ekstrem di kawasan Asia Tenggara. (ret/hdl)










