Semarang (pilar.id) – Malam Nisfu Syaban sebentar lagi jatuh pada Rabu 8 Maret 2023, meski disebut malam pengampunan namun disebutkan bila ada dosa yang tak diampuni pada waktu ini.
Ada setidaknya tiga dosa yang tak diampuni pada malam Nisfu Syaban, apa saja?
Berikut tiga dosa yang tak diampuni saat malam Nisfu Syaban melansir laman NU Online.
Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki menjelaskan malam nisfu Sya‘ban adalah lailatul maghfirah, yakni sebagai malam penuh pengampunan atas dosa-dosa manusia.
Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki menyebutkan, beberapa hadits yang menunjukkan bukti bahwa malam nisfu Sya‘ban adalah malam maghfirah.
Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu‘adz bin Jabal begini:
يطلع الله الي جميع خلقه ليلة النصف من الشعبان فيغفر لجميع خلقه الا لمشرك او مشاحن Artinya,
“Allah memandang semua makhluk-Nya pada malam nisfu Sya‘ban kemudian mengampuni dosa mereka kecuali dosa musyrik dan dosa kemunafikan yang menyebabkan perpecahan.”
Dijelaskan, walaupun hadis di atas dhaif, namun masih tetap bisa diamalkan oleh umat muslim sepenuhnya karena terkait dengan fadhail a’mal.
Ada pendapat dari mayoritas ulama hadits sebagaimana yang telah disebutkan oleh An-Nawawi dalam Taqribnya itu.
Di mana walaupun malam nisfu Syaban adalah malam ampunan, namun tidak serta merta semua dosa manusia bisa diampuni pada malam itu.
Meskipun kita telah menjalani menyebutkan amalan-amalan yang mestinya dilakukan pada malam Nisfu Syaban, yaitu tadarus Al-Quran, istighfar, dan dzikir, Sayyid Muhammad Al-Maliki menyebutkan dosa-dosa yang tidak serta merta diampuni.
Ya, ada tiga dosa yakni yang tak diampuni yakni Syirik dan orang munafiq yang menyebabkan perpecahan sebagaimana yang telah disebutkan pada hadis di atas,.
Menurut Sayyid Muhammad, dosa-dosa yang tergolong sebagai dosa besar juga tidak akan diampuni pada malam-malam pengampunan dosa seperti Nisfu Syaban dan juga malam-malam pengampunan yang lain.
Hal ini jelas disebutkan dalam hadits shahih riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan An-Nasa’i dari Ibnu Mas‘ud.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ :« أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ ». قَالَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ :« أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ ». قَالَ : ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ :« أَنْ تُزَانِىَ حَلِيلَةَ جَارِكَ » Artinya, “Abdullah bin Mas’ud bertanya, ‘Wahai Rasulullah,
dosa apakah yang paling berat?’ Kemudian Rasulullah menjawab, ‘menjadikan suatu hal sebagai persamaan dari Allah yang telah menciptakanmu (Syirik).’ Kemudian Abdullah berkata, ‘Apalagi wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Membunuh orang tuamu karena engkau takut dia makan bersamamu.’ Abdullah bertanya lagi, ‘Kemudian apalagi wahai Rasul?’ ‘Kamu berzina dengan istri tetanggamu.’”
Dari hadits di atas bisa dipahami bahwa selain syirik ada dosa-dosa lain yang termasuk sebagai dosa besar dan tidak serta merta bisa diampuni pada nisfu Syaban, yaitu dosa membunuh orang tua dan zina.
Meski demikian, dosa-dosa besar tersebut bisa diampuni jika pelaku dosa tersebut bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya dengan tobat nasuha, Wallahu a’lam. (daz)







