Surabaya (pilar.id) – Dunia politik Indonesia dihebohkan dengan pengumuman Prabowo Subianto, tokoh politik senior dan mantan menteri pertahanan RI, yang mengusung Gibran Rakabuming Raka, Wali Kota Solo, sebagai calon wakil presiden (Cawapres) dalam pemilihan presiden mendatang. Keputusan ini mengejutkan banyak kalangan dan memicu beragam reaksi dari kalangan akademik dan politik.
Prof. Kacung Marijan PhD, seorang Guru Besar Politik di Universitas Airlangga (UNAIR) yang juga seorang pakar politik, memberikan pandangannya tentang langkah Prabowo ini. Dalam wawancara eksklusif dengan UNAIR NEWS, Prof. Kacung mengungkapkan bahwa pengusungan Gibran sebagai Cawapres merupakan bagian dari strategi jangka panjang Prabowo untuk memenangkan pemilu tahun mendatang.
Gibran, sebagai putra dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menjabat selama dua periode, memiliki potensi untuk menarik dukungan dari pendukung Jokowi atau setidaknya mengurangi keunggulan lawannya. Keputusan ini mencerminkan seriusnya Prabowo dalam meraih suara pada pemilu.
Selain itu, Gibran telah terbukti sebagai politisi muda yang sukses dan memiliki visi. Prestasinya sebagai Wali Kota Solo yang memenangkan pemilihan dengan suara telak dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat membuatnya menjadi pilihan yang kuat. Hal ini memungkinkan Prabowo untuk mendapatkan perhatian generasi muda, yang merupakan sekitar 50 persen dari pemilih potensial di pemilu mendatang.
Prof. Kacung juga menyoroti manfaat politik Gibran sebagai Cawapres dalam konteks Jawa Tengah, salah satu basis pemilih terbesar di Indonesia. Dengan pengusungan Gibran, Prabowo berharap dapat mendekatkan diri ke kemenangan, terutama dengan memecah suara PDIP di Jawa Tengah.
Namun, Prof. Kacung juga mencatat bahwa keputusan ini tidak datang tanpa risiko. Ada dua faktor utama yang perlu diperhitungkan oleh pemilih yang kritis terhadap kehadiran Gibran, yakni pengalaman politik dan isu politik dinasti.
Gibran adalah seorang politisi muda yang baru memulai karir politiknya setelah menjabat sebagai Wali Kota Solo sejak tahun 2020. Meskipun berhasil dalam pemilihan, pengalaman politiknya relatif pendek, dan ia sebelumnya lebih dikenal dalam dunia bisnis dan kuliner.
Isu politik dinasti muncul karena hubungan Gibran dengan ayahnya, Presiden Jokowi, yang memiliki basis pemilih yang besar. Pengamat politik melihat Gibran sebagai bagian dari dinasti politik Jokowi, yang juga melibatkan adiknya, Kaesang Pangarep, dan menantunya, Bobby Nasution, yang menjabat sebagai Wali Kota Medan. Dinasti politik ini sering dikritik oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk nepotisme dan oligarki.
Prof. Kacung menekankan bahwa tantangan bagi Gibran adalah bagaimana meyakinkan pemilih terhadap pengalaman politiknya dan meyakinkan mereka bahwa ia bukan hanya representasi dari politik dinasti. Dalam konteks pemilu 2024, di mana terdapat tiga pasangan Capres-Cawapres yang seimbang, tantangan terbesar adalah memenangkan dukungan dari pemilih yang sebelumnya mendukung pasangan Cawapres lain yang tidak lolos ke putaran kedua.
Prof. Kacung memprediksi bahwa pemilu 2024 akan berlangsung dua putaran, dan pasangan Prabowo-Gibran harus mampu menjalin koalisi dengan pasangan lain yang tidak lolos ke putaran kedua jika ingin meraih kemenangan.
Pemilu 2024 dianggap sebagai pertarungan yang sangat ketat, di mana hampir mustahil bagi satu pasangan untuk menang dalam satu putaran. Oleh karena itu, dukungan dan koalisi akan menjadi kunci keberhasilan dalam pemilu tersebut. (rio/ted)










