Surabaya (pilar.id) – Menjelang Pemilihan Presiden, berbagai isu politik telah mewarnai suasana masyarakat akhir-akhir ini. Tahun 2023 dikenal sebagai tahun politik, terutama dengan mendekatnya Pemilihan Umum (Pemilu).
Evaluasi terhadap kinerja pemerintahan sebelumnya, di bawah kepemimpinan Presiden Ir Joko Widodo, menjadi sorotan. Namun, kritikan, terutama dari kalangan anak muda terpelajar, dinilai beberapa pakar sebagai sesuatu yang harus dilakukan dengan memperhatikan nilai etika.
Dr. Listiyono Santoso, seorang dosen Filsafat di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), memberikan pandangan terkait isu ini. Menurut Listiyono, kritik yang dilakukan oleh anak muda terhadap pemerintahan adalah bentuk keberanian yang luar biasa, meskipun seringkali mengabaikan nilai-nilai, terutama etika.
“Anak muda sering kali penuh keberanian, tetapi kurang memperhatikan risiko dan perasaan orang lain,” ungkap Listiyono.
Listiyono menegaskan bahwa pengawasan terhadap pemerintahan adalah hak rakyat, dan kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar. Namun, dia juga menekankan pentingnya kritik yang dilakukan dengan hikmat dan kebijaksanaan, sesuai dengan sila keempat Pancasila.
“Kritik itu tidak untuk merendahkan kekuasaan atau seseorang yang sedang berkuasa. Tapi dipakai untuk melakukan kontrol atas kinerja. Bedakan antara kritik dengan menghina,” jelas Listiyono.
Listiyono mengingatkan bahwa etika publik dalam memberikan kritik merupakan suatu keharusan. Kritik harus dilakukan tanpa menghina personal atau merendahkan, sesuai dengan adat dan budaya luhur Indonesia. Demokrasi, menurutnya, berdasarkan pada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
“Ini menjadi sebuah warning bagi kita, bahwa setiap kritik yang dilakukan harus tetap berada dalam koridor nilai yang ditegakkan,” tambahnya.
Selain memperhatikan etika, pemilihan diksi dan penggunaan bahasa yang tepat dalam menyampaikan kritik juga dianggap penting. Kemampuan mengolah kata dengan baik akan membuat kritik lebih diterima, sementara kritik dengan bahasa yang kurang tepat dapat merugikan substansi pesan yang ingin disampaikan. (ipl/ted)










