Surabaya (pilar.id) – Lonjakan harga beras yang terus meningkat mendorong masyarakat mencari alternatif bahan pokok. Salah satu solusi yang muncul adalah beras analog, yaitu beras buatan dari bahan baku selain beras, seperti tepung umbi-umbian, tepung kacang-kacangan, dan bekatul. Ahli Gizi Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh SKM MKes, menjelaskan proses pembuatan beras analog dan pertimbangan di baliknya.
“Pembuatan beras analog melibatkan beberapa tahap, mulai dari pemilihan bahan baku, penggilingan, pencampuran, perebusan atau pemasakan, pengeringan, penggilingan sekunder, penambahan zat gizi, hingga penentuan bentuk dan kemasan,” kata Lailatul.
Menurut Lailatul, pemilihan bahan baku tergantung pada preferensi lokal, ketersediaan, dan nilai gizi yang diinginkan. Tepung umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, atau talas, tepung kacang-kacangan seperti kedelai, kacang hijau, atau kacang merah, bekatul (kulit ari beras yang mengandung serat), vitamin, dan mineral, merupakan bahan-bahan yang dapat digunakan.
Campuran tepung kemudian direbus atau dimasak dengan menggunakan ekstruder, alat yang mengubah campuran tepung menjadi butiran-butiran seperti beras. “Butiran tersebut dikeringkan menggunakan oven atau metode pengeringan lainnya untuk mengurangi kadar air dan memperpanjang daya simpan. Setelah itu, butiran dapat digiling sekunder untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus,” jelasnya.
Lailatul menambahkan bahwa beberapa produsen mungkin menambahkan zat gizi, seperti vitamin dan mineral, untuk meningkatkan nilai gizi dari beras analog. Penambahan zat gizi ini bersifat opsional, tergantung pada tujuan dan target pasar produsen.
“Beras analog dapat dianggap sebagai solusi dalam mengatasi krisis beras. Namun, ada pertimbangan yang perlu diperhatikan, seperti penerimaan masyarakat, ketersediaan bahan baku, kesesuaian dengan kebutuhan lokal, harga dan ketersediaan, keberlanjutan produksi, serta regulasi dan keamanan pangan,” kata Ahli Gizi UNAIR itu.
“Penerimaan masyarakat terhadap beras analog dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Ketersediaan bahan baku, kompetitivitas harga, keberlanjutan produksi, dan keamanan pangan juga menjadi kunci keberhasilan beras analog sebagai alternatif bahan pokok,” tutup Lailatul. (ipl/hdl)










