Jakarta (pilar.id) – Program Merdeka Belajar yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus memberikan dampak positif, khususnya bagi pendidikan vokasi. Merdeka Belajar memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi sekolah, guru, dan murid untuk mengeksplorasi berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing, serta menstimulasi kreativitas murid.
Indra Gunawan, seorang guru Kompetensi Keahlian Tata Busana di SMKN 1 Pandak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merasakan manfaat dari kebijakan Merdeka Belajar. “Dengan kebijakan Merdeka Belajar, kami dapat memilih dan mengembangkan materi belajar sesuai karakter dan kearifan lokal, sehingga memberikan pemahaman lebih kepada murid,” kata Indra Gunawan.
Salah satu metode unik yang diterapkan Indra adalah menggunakan pakaian karya muridnya sebagai apresiasi dan untuk meningkatkan kreativitas mereka. Kebiasaan ini dimulai sejak tahun 2020, saat kebijakan Merdeka Belajar diluncurkan. “Murid merasa senang dan kreativitas mereka meningkat dalam proses pembelajaran,” tambahnya.
Untuk mengembangkan kompetensi siswa, SMKN 1 Pandak juga bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), salah satunya melalui praktik kerja lapangan (PKL). “Melalui PKL, murid dapat mengaplikasikan dan meningkatkan ilmu yang didapatkan di sekolah, serta menambah wawasan tentang dunia kerja secara nyata,” ujar Indra.
Indra berharap, muridnya tidak hanya menjadi tenaga kerja di pabrik, tetapi juga menjadi individu yang siap berkompetisi dan berkarya di kancah global. “Mereka bisa menjadi wirausahawan yang tidak hanya sekadar jahit menjahit, tetapi juga siap berkompetisi di Indonesia dan global,” ujar Indra.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek, Kiki Yuliati, mengatakan bahwa langkah yang dilakukan Indra merupakan hasil yang diharapkan dari Merdeka Belajar. “Ini sesuai dengan peluncuran Merdeka Belajar episode ke-15: Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar, di mana sekolah memiliki wewenang mengembangkan dan mengelola kurikulum sesuai karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik,” kata Kiki.
Kebijakan Merdeka Belajar juga menciptakan kurikulum yang lebih relevan dan interaktif, memberikan kesempatan pembelajaran yang lebih luas kepada peserta didik secara aktif dan eksploratif terhadap isu-isu aktual, mendukung pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila.
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi menjadikan Merdeka Belajar sebagai solusi menghadapi tantangan dan memberikan bekal pengetahuan serta keterampilan sesuai kebutuhan DUDI, termasuk di industri mode. “Kami terus meningkatkan relevansi pendidikan vokasi dengan dunia industri, termasuk industri mode yang terus berkembang di Indonesia,” tambah Kiki.
Dirjen Kiki yakin, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, lulusan pendidikan vokasi akan lebih kompetitif dan profesional di berbagai bidang pekerjaan, termasuk di industri mode. (usm/hdl)










