Denpasar (pilar.id) – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyampaikan belasungkawa atas tragedi speedboat yang tenggelam di perairan Bali. Speedboat bernama Bali Dolphin Cruise 2 terbalik saat mendekati Pelabuhan Sanur, Denpasar, pada Selasa (5/8) sore.
Akibat insiden ini, dua wisatawan asal China dilaporkan meninggal dunia, sementara satu awak kapal masih dalam pencarian.
“Atas nama pemerintah, saya menyampaikan permintaan maaf atas kejadian ini dan berkomitmen segera menindaklanjuti proses investigasi,” ujar Menteri Dudy, Rabu (6/8). Dikatakan, insiden tersebut akan mendapat penanganan cepat serta penyelidikan menyeluruh.
Kepala Kantor SAR Bali, I Nyoman Sidakarya, membenarkan bahwa kedua korban merupakan warga negara asing asal China. Mereka telah berhasil dievakuasi oleh warga sekitar setelah kejadian.
“Korban berasal dari China dan telah dievakuasi oleh masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dua korban tewas diidentifikasi sebagai Shi Guo Hong (20) dan Hanqing Yu (37). Nama keduanya tercatat dalam manifes penumpang kapal.
Speedboat nahas tersebut bertolak dari Nusa Penida pukul 14.30 WITA dengan mengangkut 80 orang termasuk awak, dan mengalami kecelakaan sekitar pukul 15.15 WITA ketika hendak bersandar di Sanur.
Tindakan Cepat Tim SAR
Setelah menerima laporan pada pukul 16.25 WITA, tim SAR Bali segera mengirim delapan personel beserta kapal karet ke lokasi. Upaya evakuasi juga dilakukan secara spontan oleh warga yang menggunakan kapal pribadi mereka.
Selain penyisiran laut, pencarian juga dibantu menggunakan drone thermal untuk mendeteksi panas tubuh manusia dari udara.
Berdasarkan laporan sementara, dari total 80 orang di kapal:
- 75 orang adalah penumpang, terdiri dari 73 warga negara asing dan 2 WNI
- 5 orang adalah awak kapal
- 77 orang telah berhasil diselamatkan
- 2 orang tewas
- 1 awak kapal bernama Kadek Adi (23) masih hilang
Penyebab Diduga Karena Faktor Alam
Kepala Otoritas Pelabuhan Benoa, Aprianus Hangki, menyatakan bahwa penyebab awal kecelakaan diduga karena faktor alam. Menurutnya, kapal tidak dalam kondisi kelebihan muatan.
“Kapal dihantam ombak saat mendekati pelabuhan. Kapten kemungkinan tidak mengantisipasi pasang tinggi di Sanur,” jelas Hangki.










