Jakarta (pilar.id) – Harga Bitcoin jatuh ke bawah US$101.000 pada Selasa (4/11), mencatat level terendah dalam lima bulan terakhir. Penurunan ini menandai tren melemahnya pasar aset digital selama sebulan terakhir, di tengah sikap hati-hati Federal Reserve (The Fed) terhadap kebijakan penurunan suku bunga.
Menurut data CoinMarketCap, harga Bitcoin turun sekitar 6 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$100.980, level yang terakhir kali terlihat pada Juni lalu. Secara mingguan, nilai Bitcoin sudah merosot 12,4 persen, memimpin penurunan harga di seluruh pasar kripto utama.
Kripto lain juga turut terkoreksi tajam: Ethereum anjlok 18 persen, XRP turun 16,9 persen, BNB melemah 19,2 persen, Solana kehilangan 22,5 persen, dan Dogecoin jatuh 21,6 persen dalam tujuh hari terakhir.
Dampak Kebijakan The Fed
Selama Oktober, Bitcoin mengalami penurunan 3,7 persen, menjadikannya performa terburuk dalam bulan tersebut selama sepuluh tahun terakhir. Kapitalisasi pasar kripto global pun menyusut signifikan—turun sekitar US$840 miliar, dari US$4,21 triliun pada 5 Oktober menjadi US$3,36 triliun pada Selasa (4/11).
Koreksi pasar kripto ini terjadi setelah The Fed memangkas suku bunga sebesar 0,25 poin pekan lalu. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa tidak ada jaminan pemotongan suku bunga tambahan akan dilakukan pada Desember mendatang.
Anggota Dewan Gubernur The Fed, Lisa Cook, mengatakan masih belum memutuskan apakah akan mendukung pemotongan suku bunga lanjutan. Sementara itu, Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid menjadi satu-satunya pejabat yang menolak pemangkasan suku bunga pada pertemuan terakhir.
Historisnya, harga Bitcoin cenderung naik saat suku bunga rendah. Selama pandemi COVID-19, misalnya, Bitcoin melesat dari US$5.000 pada Maret 2020 menjadi sekitar US$69.000 pada November 2021. Sebaliknya, pada 2018 ketika The Fed menaikkan suku bunga, harga Bitcoin sempat anjlok dari US$20.000 ke sekitar US$3.000.
Faktor Politik dan Investasi Korporasi
Kenaikan Bitcoin ke rekor tertinggi baru tahun ini sempat didorong oleh kebijakan pemerintahan Donald Trump yang mendukung pelonggaran regulasi pasar kripto. Token ini sempat menembus level US$110.000 dan US$120.000 hanya dalam dua bulan.
Sejumlah perusahaan besar, termasuk Trump Media and Technology Group, mengumumkan investasi senilai US$2,5 miliar untuk membangun cadangan korporasi dalam bentuk Bitcoin. Pemerintah AS juga dilaporkan memiliki cadangan Bitcoin senilai US$15–20 miliar hingga Agustus 2025, menurut Menteri Keuangan Scott Bessent.
Selama penutupan sementara pemerintahan AS beberapa waktu lalu, Bitcoin bahkan sempat berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven), seiring reli harga emas, perak, dan platinum. (ret/hdl)









