Cilacap (pilar.id) – Krisis iklim global adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Bahkan, krisis tersebut sudah terjadi dan tepat berada di depan mata kita. Namun, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghadapi dan mencegah krisis yang lebih besar lagi.
Hal ini lah yang disampaikan dan ditekankan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kepada Pemerintah Kabupaten Cilacap di Provinsi Jawa Tengah. BMKG mendorong pemerintah daerah termasuk Pemerintah Kabupaten Cilacap memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan dampaknya.
Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo dalam keterangannya di Cilacap, Sabtu (5/3/2022), menekankan pentingnya penguatan upaya mitigasi dan adaptasi guna mengurangi dampak perubahan iklim.
“Perubahan iklim sudah terjadi di hadapan kita. Antisipasi agar kita bisa tetap bertahan adalah dengan beradaptasi terhadap perubahan iklim tersebut,” katanya.
Mitigasi perubahan iklim mencakup upaya untuk mencegah atau memperlambat terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim dengan mengurangi emisi dan meningkatkan penyerapan gas rumah kaca.
Sedangkan adaptasi terhadap perubahan iklim meliputi langkah-langkah penyesuaian untuk mengurangi dampak perubahan iklim seperti pelestarian ekosistem hutan, pembenahan infrastruktur perkotaan, peningkatan penggunaan energi terbarukan, peningkatan ketahanan daerah pesisir, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam upaya pengendalian perubahan iklim dan dampaknya.
Teguh mengatakan bahwa Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung menjalankan Program Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan Program Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) untuk meningkatkan pemahaman petani dan nelayan mengenai cuaca dan iklim.
“Nah, untuk kampung iklim barangkali salah satu aplikasi dari adaptasi perubahan iklim di lapangan dari Pemkab Cilacap,” katanya.
Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Cilacap dapat menjalankan program-program untuk meningkatkan pengetahuan warga mengenai iklim, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, menggiatkan penghijauan, serta mengampanyekan penerapan prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang dalam pengelolaan sampah.
“Reduce adalah kegiatan menggunakan produk kemasan, terutama plastik seminimal mungkin. Reuse adalah langkah menggunakan kembali benda-benda bekas seperti kantong plastik atau botol plastik. Recycle adalah kegiatan mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai menjadi berguna lagi,” kata Teguh mengenai prinsip reduce, reuse, recycle atau 3R. (fat/antara)









