Jakarta (pilar.id) – Bubur merupakan salah satu menu sarapan yang lazim dikonsumsi masyarakat di Jakarta. Selain karena teksturnya yang lembut dan mudah ditemukan, bubur juga bisa didapatkan dengan harga terjangkau.
Bubur juga memiliki banyak komponen seperti kuah, potongan ayam, kacang, sambal, dan kerupuk. Sehingga, nikmat dan memenuhi gizi yang dibutuhkan tubuh ketika dinikmati di pagi hari.
Maka, tak aneh jika di Jakarta, utamanya di masyarakat Betawi, memiliki makanan khas yang bentuknya adalah bubur. Makanan tersebut bernama bubur ase Betawi. Berbeda dari bubur ayam biasa yang bisa dinikmati dengan dua cara; diaduk dan tidak diaduk.
Bubur ini harus di aduk untuk bisa memunculkan cita rasa terbaiknya. Sebab, jika tidak diaduk, bubur dan pugasannya tidak akan bisa saling menyatu dan meresap. Sehingga, rasanya akan cenderung hambar.
Chef Moch Feisal Rachman dari Hotel Mercure Cikini, Jakarta, mengatakan bahwa bubur ase yang pugasannya terdiri dari semur daging dan asinan lebih nikmat jika diaduk terlebih dahulu.
“Campur biar enak, kalau dipisah enggak enak,” kata Feisal di Cikini.
Feisal mengatakan, nama “ase” diambil dari “asinan dan semur”, pugasan dari kuliner Betawi yang kini termasuk langka. Dalam suguhan bubur ase yang dibuat Feisal, buburnya terasa hambar karena sumber rasanya ada pada semur dan asinan yang meliputi toge, lobak, sawi asin, lokio dan mentimun.
Semur menyumbang rasa manis, sementara asinan memberikan nuansa asam dan pedas berkat komposisi cuka, gula merah, kacang tanah, ebi dan cabe. Selain daging sapi dan asinan, bubur ini juga dilengkapi dengan tahu, kentang serta kerupuk merah.
Buku “Kuliner: Suatu Identitas Ketahanan Pangan Unik” karya Musa Hubeis dan W Kania Dewi menyebutkan bubur ini memang punya penampakan yang berbeda dari bubur Cianjur, Sukabumi atau bubur China.
Pugasannya lebih ramai dan berwarna, tapi dominan hitam berkat kuah semur. Hidangan semur pada umumnya terdiri dari potongan daging dengan kuah kecap, bumbunya terdiri dari rempah seperti pala, kayu manis, cengkeh, jahe, merica dan ketumbar.
Dikutip dari buku “Kuliner Betawi, SELAKSA RASA dan cerita”, bubur yang dimasak dengan daun salam dan santan ini biasa dilengkapi dengan kacang tanah goreng, udang rebon dan daun bawang. (fat/antara)

