Close Menu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Culture
  • Visual
  • Khas
  • Pilar Muda
  • Pilar Wanita
  • Indeks
Facebook Instagram YouTube
TRENDING
  • Kemenkes Minta Publik Tak Stigma ODHIV, Peningkatan Temuan Kasus Hasil Deteksi Dini
  • Pemerintah Berlakukan Bea Masuk 0 Persen untuk Industri MRO dan Petrokimia Lewat PMK Nomor 50 Tahun 2026
  • Bank Jatim dan Bank NTT Perkuat Sinergi BPD Lewat Kerja Sama Remitansi Internasional untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan
  • Rano Karno Resmikan Open Top Tour Jakarta Batavia dan Uji Coba Open Dining, Perkuat Wisata Kota Tua
  • Pemkot Surabaya Pasang Portal dan CCTV di Parkir Makam Keputih, Tarif Maksimal Rp5.000 Kini Diawasi Ketat
Facebook Instagram YouTube X (Twitter) TikTok RSS
pilar pemilu
Pilar.IDPilar.ID
  • Terkini
  • Ekonomi
  • Sport
  • Lifestyle
  • Visual
  • Pilar Muda
  • Khas
  • Lainnya
    • Pilar Budaya
    • Pilar Bola
    • Pilar Jakarta
    • Pilar Wanita
INDEKS
Pilar.IDPilar.ID
Home»Gaya Hidup»Kuliner»Engkot Keumamah, Lauk Zaman Perang yang Masih Bertahan Hingga Sekarang

Engkot Keumamah, Lauk Zaman Perang yang Masih Bertahan Hingga Sekarang

Kuliner M. Fathur Rohman25 April 2022
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Perajin menjemur ikan kayu di sebuah usaha industri rumahan, Desa Gano, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh, Jumat (8/11/2019). (Foto:Antara)

Banda Aceh (pilar.id) – Namanya Engkot Keumamah. Ia bukan nama orang atau seorang tokoh. Namun, perannya tidak kalah penting bagi masyarakat Indonesia utamanya di Provinsi Aceh.

Sebab, Engkot Keumamah adalah warisan budaya kuliner yang telah menyelamatkan masyarakat aceh di masa-masa sulit. Hidangan lauk berupa ikan laut ini, pernah menjadi hidangan resmi kerajaan untuk menjamu tamu-tamu negara.

Juga pernah menjadi teman bagi para geriliawan dan pejuang perang melawan penjajahan Belanda. Bahkan, Engkot Keumamah juga kerap dijadikan bekal ketika ada umat muslim yang hendak menempuh perjalanan panjang menuju Makkah untuk menjalankan ibadah Haji.

Meski perannya sangat besar, dan Engkot keumamah juga masih tetap lestari hingga sekarang. Tak banyak yang tahu mengenai sejarah dari kuliner berbahan dasar daging ikan tongkol/cikalang ini. Bahkan, generasi muda dan milenial di Aceh pun tak banyak yang tahu bahwa kuliner ini menjadi teman sehari-hari para pejuang menyantap nasi di masa perang.

Kalau di Ranah Minang orang mengenal kuliner lezatnya rendang, tapi di Aceh, lauk engkot keumamah atau disebut juga dengan ikan kayu sudah populer sejak ratusan tahun silam, dan menjadi menu khas pihak kerajaan saat menjamu tamu penting.

Ikan kayu bukan berarti terbuat dari kayu, tapi engkot keumamah adalah ikan tongkol/cikalang yang telah melalui proses pengeringan. Ikan tongkol, setelah dagingnya dipotong-potong beberapa bagian, kemudian direbus dan selanjutnya dikeringkan di bawah terik matahari.

Engkot keumamah yang tempoe doeloe menjadi menu istimewa sebagai lauk pauk teman nasi para pejuang Aceh saat berperang menghadapi penjajah Belanda. Pasalnya, kuliner dengan bahan baku utama ikan tongkol itu tahan lama, berbulan-bulan untuk mendukung gizi para gerilyawan yang sedang berperang melawan penjajah.

Tidak hanya saat perang, tapi engkot keumamah pada masa lalu juga menjadi salah satu bekal penting yang dibawa oleh para calon jamaah haji asal Aceh yang menempuh perjalanan berbulan bulan lamanya dengan kapal laut ke Makkah, Saudi Arabia.

Untuk melahirkan masakan yang enak dan lezat dari bahan utama engkot keumamah dengan bumbu kaya rempah antara lain bawang merah, bawang putih, asam sunti (belimbing wuluh yang sudah dikeringkan), cabai rawit, cabai merah, cabai hijau, jahe, ketumbar dan kunyit, daun temurui atau salam koja

Ada beberapa varian kuliner dengan bahan baku utama engkot keumamah yang diyakini dapat menggugah selera setiap orang yang akan mencobanya antara lain berupa masakan kari, tumis, dan kuah santan.

Kuliner dengan bahan utama engkot keumamah itu juga menjadi salah satu menu istimewa yang disajikan saat pesta (kenduri) baik perkawinan, hajatan sunah rasul, dan kegiatan menjamu tamu penting pemerintahan.

Engkot keumamah yang sebelumnya hanya dibuat tertentu oleh orang-orang tua di kampung, dan terbatas di jual di pasar-pasar, namun kini kuliner berbahan utama ikan laut itu banyak dijumpai di toko-toko suvenir, dan cocok dijadikan oleh-oleh karena sudah dilengkapi bumbu alias tinggal masak.

Kuliner Aceh sebagai salah satu kekayaan dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia, kata kolektor manuskrib Aceh Tarmizi A Hamid, perlu didaftarkan sebagai Hak kekayaan intelektual (HAKI) sehingga tetap terjaga eksistensinya.

Kuah beulangong

Ternyata, kuliner Aceh yang kaya akan rempah-rempah dan tanpa penyedap buatan itu tidak hanya engkot keumamah, kata Tarmizi cukup banyak dan berbeda daerah juga berbeda jenis dan rasa, salah satunya masakan kuah beulangong khas Aceh Besar.

Setiap diadakan kenduri, apakah itu pesta perkawinan, sunat rasul, memperingati Maulid Nabi Muhammad, Nuzul Quran dan berbagai kenduri lainnya itu rasanya tidak sah jika tidak ada sajian masakan kuah beulangong.

Sebenarnya, kuliner kuah beulangong jika diartikan adalah kuah kari bahan baku utama daging sapi dan kambing yang dimasak dalam kuali berukuran besar. Kuah beulangong ini asal utamanya adalah kuliner Aceh Besar.

Tidak heran, di hajatan kenduri besar seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, warga memasak kuah beulangong yang terkadang jumlahnya bisa mencapai 30 kuali besar dan dimasak secara gotong-royong di maunasah atau masjid di sebuah desa/gampong di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh.

Uniknya, kuliner kuah beulangong khusus dimasak oleh kaum laki-laki yang dimulai dari awal penyembelihan hewan ternak dominan sapi/kambing. Kuah beulangong sebagai kuliner kaya rempah-rempah itu dicampur buah nangka muda, buah pisang kepok dan hati pohon pisang.

Kaum laki-laki dari berbagai umur, bergotong-royong menyembelih, menyiangi sampai memasak daging sapi/kambing kuah beulangong, baik di masjid atau mushala jika diperuntukkan bagi hajatan kenduri memperingati Maulid Nambi Muhammad atau Nuzul Quran di Bulan Suci Ramadhan.

Tarmizi A Hamid yang akrab disapa Cek Midi juga mengharapkan Pemerintah Aceh terutama instansi terkait harus memberikan perhatian khusus untuk perlindungan karya para orang tua dahulu sebagai kekayaan budaya bangsa.

“Saya sarankan, Pemerintah Aceh dan instansi terkait lainnya harus serius memperhatikan kekayaan kuliner dan budaya serta adat istiadat guna diberikan perlindungan. Misalnya, terhadap kuliner engkot keumamah dan kuah beulangong itu segera dipatenkan (Haki), sehingga di kemudian hari tidak ada daerah lain atau negara lain yang mengklaim sebagai milik mereka,” katanya.

Dia mencontohkan, kuah beulangong saat ini tidak hanya dijumpai di Aceh Besar atau Kota Banda Aceh tapi mudah dijumpai di seluruh wilayah di provinsi ini, bahkan kuliner tersebut juga sudah pernah disajikan dalam jamuan makan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pada hari-hari biasa, kuah beulangong yang mengeluarkan aroma khas dan menggugah selera bagi siapapun yang mencicipinya itu mudah dijumpai karena banyak usaha warung didirikan di sejumlah ruas jalan strategis seperti di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Pada bulan Ramadhan, misalnya, para pedagang kuliner kuah beulangong musiman berjejer di sejumlah ruas jalan yang ramai dilalui kendaraan bermotor di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Kuliner tersebut menjadi salah satu menu lauk berbuka puasa bagi umat Muslim Serambi Mekah.

Di pihak lain, Cek Midi mengharapkan Pemerintah Aceh agar lebih peduli dalam merawat tradisi dan budaya, khususnya ragam kuliner tradisional Aceh yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat di provinsi berpenduduk sekitar 5,2 juta jiwa tersebut.

“Kita harus merasa bangga bahwa Aceh memiliki beragam kuliner tradisional dengan cita rasa yang menggugah selera, dan juga diakui wisatawan baik nusantara maupun luar negeri ketika mencicipi makanan khas Aceh, seperti masakan engkot keumamah dan kuah beulangong di Aceh Besar,” kata dia menambahkan.

Sebagai produk tradisional kearifan lokal yang dimiliki dan sampai sekarang masih bertahan di Aceh, selayaknya kuliner seperti masakan engkot keumamah dan kuah beulangong dilestarikan dan dipatenkan. (fat/tra)

Add Pilar.ID as a preferred source on Google+

Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Pilar.id
Budaya kuliner aceh Engkot Keumamah kuliner Aceh kuliner khas aceh
Leave A Reply Cancel Reply

FOTO PILIHAN
Penyerahan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13.255.244.538.149,00 dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Presiden Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Pengganti Kerugian Negara Rp13,25 Triliun dari Kejaksaan Agung

Foto Pilihan 23 Oktober 2025
Lomba Open Water Swimming di Ternate jadi ajang memperkuat sinergi TNI, Pemda, dan masyarakat dalam semangat nasionalisme dan cinta laut.

Lomba Open Water Swimming di Ternate Perkuat Sinergi TNI dan Pemda Maluku Utara

Foto Pilihan 16 Oktober 2025
Aksi live painting BUNTA iNOUE

Pagelaran Sabang Merauke 2025 Sukses Hibur 28.000 Penonton di Jakarta

Foto Pilihan 26 Agustus 2025
TNI tampil gemilang di Bastille Day 2025 di Paris.

TNI Tampil di Parade Bastille Day 2025, Simbol Eratnya Kemitraan Indonesia–Prancis

Foto Pilihan 15 Juli 2025
Artotel Wanderlust dan Prambanan Jazz Festival

Jazz Night PJF 2025 di ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Nuansa Musik Intim dan Penuh Warna

Foto Pilihan 15 Juni 2025
Berita Pilihan
Kristina Yoko

J Trust Bank Gandeng Pegolf Kristina Yoko, Perkuat Dukungan Atlet Indonesia Menuju Panggung Dunia

19 Juli 2026
VinFast resmi membuka 20 dealer motor listrik di kota besar Indonesia pada Juli 2026. Konsumen bisa menjajal lini produk hingga layanan tukar baterai gratis.

VinFast Buka 20 Dealer Motor Listrik di Indonesia: Hadirkan Model Evo, Feliz II, dan Viper

18 Juli 2026
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memperkuat ekosistem Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi untuk menjaga pasokan sembako dan LPG 3 kg.

Khofifah Tinjau Koperasi Merah Putih Tukangkayu Banyuwangi: Pastikan Stok Sembako dan LPG 3 Kg Aman

18 Juli 2026
Moh. Zaki Ubaidillah

Debut Manis di Japan Open 2026: Zaki Ubaidillah Tumbangkan Wakil Denmark dan Lolos 16 Besar

17 Juli 2026
Secure Parking Indonesia sukses mengurai kepadatan mobilitas 6,1 juta pengunjung dan transaksi Rp8,2 triliun selama 32 hari Jakarta Fair 2026.

Sukses Kelola Parkir 6,1 Juta Pengunjung Jakarta Fair 2026, Begini Strategi Secure Parking Meta

16 Juli 2026
Berita Lainnya
Kemenkes mengajak masyarakat tidak memberi stigma kepada ODHIV. Peningkatan temuan kasus HIV di Sidoarjo disebut mencerminkan keberhasilan deteksi dini.

Kemenkes Minta Publik Tak Stigma ODHIV, Peningkatan Temuan Kasus Hasil Deteksi Dini

25 Juli 2026
Haryo Limanseto

Pemerintah Berlakukan Bea Masuk 0 Persen untuk Industri MRO dan Petrokimia Lewat PMK Nomor 50 Tahun 2026

25 Juli 2026
Bank Jatim dan Bank NTT menjalin kerja sama layanan remitansi internasional untuk memperluas akses keuangan, mendukung PMI, dan memperkuat sinergi BPD.

Bank Jatim dan Bank NTT Perkuat Sinergi BPD Lewat Kerja Sama Remitansi Internasional untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan

24 Juli 2026
© 2026 pilar.ID | beritajatim.com network
  • Beranda
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Arsip Berita
  • Indeks

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.