Tanjungpinang (pilar.id) – Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa. Bulan dimana setiap amal bernilai ribuan kali lipat pahalanya. Di dalam keistimewaan Ramadhan tersebut, 10 malam terakhir adalah yang paling istimewa.
Ada janji lailatul qadar yang dipercaya, turun pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Di malam-malam ini pula, masyarakat Desa Batu Limau, Kabupaten Karimun, Provinsi Riau (Kepri) rutin menggelar kenduri.
Kegiatan ini bahkan berlangsung hampir setiap malam. Bahkan, di waktu-waktu tertentu, kegiatan Kenduri ini bisa berlangsung hingga menjelang Subuh tiba.
Seperti yang dilaksanakan Riko di rumahnya pada Sabtu (30/4/2022) malam. Menurutnya, kenduri tersebut merupakan tradisi rutin tahunan yang dilakukan masyarakat sejak memasuki 10 malam terakhir Ramadhan atau disebut malam tujuh likur.
“Rumah-rumah warga melaksanakan kenduri secara bergantian, dengan mengundang belasan hingga puluhan penduduk sekitar,” kata Riko.
Hajatan kenduri umumnya dilaksanakan selepas salat Magrib atau setelah berbuka puasa. Namun, ada pula yang melakukannya usai shalat Tarawih.
Puncak acara kenduri biasanya terjadi pada malam 27 Ramadhan, karena di malam itu rumah warga yang menggelar kenduri lebih banyak dibanding malam-malam lainnya, bahkan bisa selesai sampai shalat Subuh.
Warga lainnya Deko menyebut kenduri tersebut merupakan wujud rasa syukur masyarakat karena masih bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan tahun ini dan diharapkan dipertemukan dengan Ramadhan tahun berikutnya.
Selain itu, ini juga sebagai wadah menjalin silaturahmi antar sesama warga. Kenduri diisi dengan bacaan ayat-ayat suci al-quran serta doa-doa yang ditujukan untuk arwah keluarga atau sanak saudara dari yang punya hajatan.
“Seseorang yang dituakan atau biasa disebut dengan istilah lebai kampung bertindak memimpin pembacaan doa tersebut,” ujar Deko.
Setelah doa selesai dibacakan, tuan rumah menjamu warga yang datang dengan aneka hidangan, berupa nasi lengkap dengan lauk-pauk, kuih, serta minuman tawar/manis.
Makanan dihidangkan dalam sebuah wadah atau nampan. Tiap-tiap hidangan dapat disantap empat hingga lima orang dengan duduk membentuk lingkaran.
Selain kenduri, terpantau sejumlah masyarakat turut memasang lampu colok di halaman rumah masing-masing untuk menyemarakkan malam terakhir Ramadhan menjelang tibanya hari raya Idul Fitri. (fat/tra)


