Jakarta (pilar.id) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021. Temuan penting dalam rilis tersebut adalah prevalensi perokok di Indonesia mengalami penurunan dari 1,8 persen menjadi 1,6 persen.
“Akan tetapi jumlah komulatif orang yang merokok itu justru meningkat menjadi kira-kira penambahan 8 juta orang,” kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, di Jakarta, Selasa (31/5/2022).
Temuan menarik lainnya, anggaran belanja rumah tangga untuk membeli rokok, ternyata lebih tinggi dibanding kebutuhan makanan bergizi. Menurut Dante, masyarakat perlu diedukasi secara sosial dan ekonomi agar tidak berkelanjutan.
“Jumlah perokok pasif meningkat, menjadi 120 juta di seluruh Indonesia,” kata Dante.
Data GATS juga menunjukkan anggaran untuk promosi rokok juga semakin tinggi dari tahun ke tahun. Peningkatan jumlah promosi paling signifikan dilakukan melalui internet.
“Dari tahun 2011, iklan di media internet itu cuma 1,9 persen. Itu naik 10 kali lipat menjadi 23,4 persen,” papar Dante.
Data-data tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk membuat strategi agar masyarakat semakin teredukasi bahwa merokok itu tidak keren. Dante berharap, masyarakat terutama usia lanjut semakin sadar bahwa merokok mengganggu kesehatan.
Dante menjelaskan, komplikasi rokok membawa implikasi pembiayaan jangka panjang. Karena rokok membawa banyak risiko penyakit, mulai pembuluh darah hingga kanker.
Dante juga menyinggung soal gambar bahaya merokok pada bungkus rokok, rupanya tidak berdampak apapun. Bahkan, meskipun cukai rokok dinaikkan tetap tidak mempengaruhi orang untuk berhenti merokok.
“Kita akan terus berupaya untuk memperbesar gambar ini, sehingga masyarakat lebih teredukasi,” kata Dante. (fat)



