Jakarta (pilar.id) – Peneliti Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor mengatakan, Indonesia memiliki pekerjaan rumah (PR) yang besar untuk mereduksi peran dinasti politik. Selain itu, Indonesia juga memiliki PR lainnya untuk memperkuat demokrasi internal dan merit sistem di dalam partai politik.
“Di sini pula partai harus bersih dari jual beli kursi atau umum disebut sebagai praktik dagang sapi dalam menentukan kandidat,” kata Firman, di Jakarta, Kamis (25/8/2022).
Ironisnya, lanjut Firman, berdasarkan beberapa kajian mengindikasikan tak sedikit kandidat yang terjun ke kontestasi politik hanya sekadar ingin menikmati pusaran uang. Hal itu tentu mengkhawatirkan dalam keberlangsungan iklim demokrasi di Indonesia.
Karena itu, menurut Firman partai politik perlu membuat terobosan saat kampanye nanti. Partai politik, tidak hanya sekadar meneriakkan jargon-jargon tanpa makna, dan tidak relevan dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini.
“Misi idealnya, partai harus memajukan ide, visi atau gagasan. Kita membayangkan dalam kampanye nanti betul-betul visi yang dikumandangkan,” lanjut Firman.
Tak jarang, lanjut Firman, partai politik menyampaikan jargon-jargon layaknya seorang penjual obat. Mereka terkadang justru tidak menganggap masyarakat atau konstituennya sebagai partner atau mitra dialog.
“Melainkan sekadar pendengar yang baik, layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dan senang dininabobokkan,” jelasnya.
Lebih jauh, Firman melihat, kampanye partai politik dari Sabang hingga Merauke lebih seperti pasar malam. Padahal, kampanye seharusnya menjadi pasar gagasan atau menjadi tempat untuk menggantungkan harapan-harapan besar bangsa di masa yang datang.
“Hal itu jelas harus dihentikan oleh partai politik. Karena substansinya itu pembodohan dan jelas pendangkalan makna pemilu, politik, dan demokrasi itu sendiri,” pungkasnya. (Akh/din)

