Jakarta (pilar.id) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan penurunan stunting di Indonesia sebesar 14 persen pada tahun 2024. Saat ini kasus stunting masih di angka 24 persen.
Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, mengatakan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada Balita karena kurangnya asupan gizi atau asupan gizi yang tidak adekuat. Penyebab lainya juga karena ada infeksi berulang atau karena kurangnya stimulasi asupan gizi.
“Kuncinya adalah mengelola implementasi di lapangan sehingga upaya kita aksi bergizi ini adalah upaya kita untuk memperbaiki atau membuat gerakan implementasi di lapangan. Sehingga untuk mencapai 14 persen dibutuhkan dukungan dan kerja sama semua pihak yang bentuknya itu adalah bentuk gerakan,” ujar Endang dalam keterangan persnya, Rabu (26/10/2022).
Dikatakan Endang, dari data stunting kita pada saat lahir itu bayi kita sudah 23 persen dalam kondisi stunted panjang badan di bawah 48 persen. Sisanya 77 persen atau hampir 80 persen itu sesudah lahir, pada pascakelahiran. Dengan demikian, harus dibuat dua intervensi, yaitu intervensi sebelum kelahiran dan intervensi sesudah kelahiran.
“Aksi bergizi ini adalah salah satu intervensi sebelum kelahiran ada di dalam Perpres nomor 72 tahun 2021, yang menjadi indikator penting yaitu remaja putri menerima tablet tambah darah atau mengonsumsi tablet tambah darah dengan target 90 persen,” ucapnya.
Perlunya intervensi kepada remaja putri karena sebelum kelahiran bayi, harus diperbaiki kondisi gizinya, bahkan sejak remaja. Karena nanti pada saat remaja perilaku untuk asupan gizi yang baik akan terbawa sampai dengan nanti menjadi dewasa lalu memasuki masa kehamilan.
Salah satu gerakan aksi bergizi adalah pemberian tablet tambah darah pada remaja putri. Menurut Riskesdas 2018 anemia pada remaja itu masih sangat tinggi di atas 20 persen. Secara rinci, anemia pada anak usia 5 sampai 14 tahun sebesar 26,8 persen, usia 15 sampai dengan 24 tahun mencapai 32 persen.
Untuk kepatuhan remaja putri mengonsumsi tablet tambah darah saat ini masih rendah. Remaja putri yang memperoleh tablet tambah darah dalam 12 bulan terakhir mencapai 76,2 persen, tetapi hanya 1,4 persen remaja putri yang mengkonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran.
Ha ini adalah hal yang penting untuk meningkatkan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri sekaligus juga memperbaiki perilaku mengonsumsi gizi seimbang.
“Inilah yang akan kita gerakan di dalam gerakan nasional aksi bergizi supaya jadi gerakan bersama dalam mengonsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri,” ujar Endang. (her/din)


