Jakarta (pilar.id) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut meningkat sekitar 41 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,70 triliun, didukung pertumbuhan penyaluran kredit, ekspansi aset, dan perbaikan kualitas pembiayaan.
Direktur Utama BBTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan hasil tersebut menunjukkan transformasi bisnis perseroan berjalan sesuai target. Manajemen optimistis tren kinerja positif akan berlanjut hingga akhir tahun 2026 seiring implementasi strategi bisnis yang telah disusun.
Hingga akhir Juni 2026, total penyaluran kredit BBTN mencapai Rp418,11 triliun, atau tumbuh 11,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan kredit perumahan yang mencapai Rp332,88 triliun, sementara kredit nonperumahan tercatat sebesar Rp85,22 triliun.
Ekspansi pembiayaan tersebut turut mendorong peningkatan total aset konsolidasi menjadi Rp545,16 triliun, naik 12,4 persen secara tahunan. Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BBTN meningkat 6,6 persen menjadi Rp433 triliun, dengan Cost of Fund tetap terjaga pada level 3,01 persen.
Selain mencatat pertumbuhan bisnis, kualitas aset perseroan juga menunjukkan perbaikan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) bruto turun menjadi 2,99 persen, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 18,6 persen. Adapun Cost of Credit (CoC) turun menjadi 0,7 persen, mencerminkan efektivitas pengelolaan risiko kredit.
Pada semester pertama 2026, BBTN juga telah merampungkan tahap pertama akuisisi portofolio kredit pensiun milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) dengan nilai sekitar Rp12,6 triliun. Perseroan menargetkan penyelesaian akuisisi tahap kedua pada kuartal III 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat pertumbuhan bisnis dan diversifikasi portofolio pembiayaan.
Mengacu pada laporan riset Stockbit Sekuritas Digital, manajemen BBTN tetap mempertahankan target kinerja sepanjang 2026 meskipun memperkirakan kondisi likuiditas akan semakin ketat pada semester kedua tahun ini.
Stockbit Sekuritas menilai laba bersih semester I 2026 telah mencapai sekitar 62 persen dari estimasi konsensus laba bersih sepanjang tahun. Kinerja tersebut ditopang oleh menurunnya beban provisi dan berlanjutnya perbaikan kualitas aset, yang diperkirakan masih akan memberikan kontribusi positif hingga akhir tahun.
Meski demikian, lembaga riset tersebut juga mencermati potensi tantangan yang dihadapi BBTN pada paruh kedua 2026. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kemungkinan meningkatnya Cost of Fund akibat kondisi likuiditas yang lebih ketat di industri perbankan.
Namun demikian, Stockbit Sekuritas menilai dampak kenaikan biaya dana berpotensi diimbangi oleh perlambatan pertumbuhan kredit yang dapat menekan kebutuhan pendanaan, serta strategi perseroan yang lebih fokus pada penyaluran kredit dengan tingkat imbal hasil (yield) yang lebih tinggi.
Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang tetap solid, kualitas aset yang membaik, serta strategi ekspansi yang berkelanjutan, BBTN optimistis mampu mempertahankan momentum pertumbuhan kinerja hingga akhir 2026 di tengah dinamika likuiditas sektor perbankan nasional. (hdl)





