Jakarta (pilar.id) – PT Blue Bird Tbk (Bluebird) menggandeng Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset & Teknologi (Kemendikbudristek) dan Yayasan Suara Hati Perempuan menggelar aksi keprihatian atas kekerasan terhadap perempuan. Aksi tersebut dikemas dengan tajuk ‘Seni dan Tutur Perempuan: 16 Perempuan, 16 Suara, dan 16 Kekuatan’.
Selain itu, perhelatan ini digelar dalam rangka memperingati kampanye internasional 16 hari anti-kekerasan terhadap perempuan yang digagas oleh Women’s Global Leadership Institute dengan dukungan Center for Women Global Leadership sejak tahun 1991. Setiap tahunnya, kampanye ini dilakukan mulai tanggal 25 November-10 Desember.
Adapun agenda utama dari kegiatan ini terdiri pameran, diskusi, dan screening film dengan memadukan 16 pekerja seni Indonesia. Mereka menyuarakan kegelisahan dan berbagi pengetahuan antara satu dengan yang lain, terkait isu-isu perempuan yang selama ini kerap berkembang di masyarakat.
Chief Marketing Officer PT Bluebird Tbk Mediko Azwar mengatakan, acara ini merupakan salah satu bentuk nyata dari komitmen perseroan dalam berkontribusi terhadap perbaikan kualitas kehidupan. Terlebih, Bluebird lahir dari seorang perempuan, dan dalam perjalanannya selama 50 tahun melayani negeri juga didukung oleh banyak perempuan tangguh.
Menurut Mediko, BlueBird bisa menjadi sebesar saat ini karena tak lepas dari dukungan kaum hawa. Mereka adalah karyawan, pengemudi perempuan, dan juga istri-istri pengemudi yang merupakan tiang penopang dan bagian dari keluarga besar Bluebird.
“Bluebird senantiasa berkontribusi sebagai agen pembangunan masyarakat, termasuk dalam hal pemberdayaan perempuan dan kampanye anti-kekerasan terhadap perempuan,” kata Mediko.
Mediko menambahkan, perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa dan negara. Indonesia memiliki banyak tokoh perempuan seperti pejuang kemerdekaan, pejuang pendidikan, dan pejuang bagi keluarga. Namun, ia menyayangkan masih banyak data yang menunjukkan adanya kerentanan perempuan karena kekerasan.
Dampak dari kekerasan terhadap perempuan ini bisa berlangsung dalam jangka panjang, bahkan memiliki efek permanen yang dapat mempengaruhi masa depannya. Karena itu, melalui kegiatan ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengentaskan isu kekerasan terhadap perempuan di Indonesia diharapkan semakin meningkat.
Sementara itu, pendiri Yayasan Suara Hati Perempuan dan Penggagas Acara Nova Eliza mengatakan, kekerasan terhadap perempuan saat ini angkanya masih sangat tinggi di Indonesia. Berdasarkan data catatan tahunan (catahu) Komnas Perempuan 2022, angka kekerasan terhadap perempuan pada 2021 sebanyak 338.496 kasus. Angka tersebut merupakan jumlah tertinggi selama 10 tahun terakhir, dan mengalami peningkatan sebanyak 50 persen dibanding tahun 2020.
“Kami berharap semua pihak yang terlibat, seperti pemerintah, lembaga masyarakat, akademisi, dan dunia usaha, dapat menjalin sinergi, bekerja sama, dan bergandengan tangan agar tindak kekerasan terhadap perempuan dapat teratasi di Indonesia,” kata Nova. (ach/hdl)










