Tarakan (pilar.id) – Sebelum menjadi sebuah negara bernama Indonesia, daerah-daerah yang ada di Nusantara pada masa lampau memiliki banyak kerajaan yang berkuasa di daerah masing-masing.
Salah satu kerajaan yang pernah berkuasa di Indonesia adalah Kesultanan Bulungan. Kerajaan ini, berada di daerah yang saat ini masuk di Provinsi Kalimantan Utara. Istana Kesultanan Bulungan yang pernah berkuasa di provinsi tersebut rencananya akan kembali di bangun oleh Pemprov Kaltara.
Hal tersebut, seiringan dengan diterimanya tanah hibah seluas delapan hektar oleh Pemprov Kaltara. Lahan tersebut, rencananya nanti akan digunakan untuk pembangunan kembali Kesultanan Bulungan.
Sedangkan Kesultanan Bulungan merupakan kerajaan yang pernah pernah menguasai wilayah pesisir Kaltara. Beberapa daerah yang dulu ada di bawah kekuasaan Kesultanan Bulungan adalah Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan, Tawau, Kalabakan, dan sebagian Semporna Sabah sekarang
“Semoga dengan hibah lahan dapat menghidupkan kembali kejayaan Kesultanan Bulungan seperti dahulu, menjadi salah satu pusat pariwisata wilayah di Kaltara. Di Jakarta, kita tahu terdapat nama Bulungan yang merupakan penghormatan dari kerajaan Belanda bagi Sultan Bulungan,” kata Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang di Tanjung Palas di Bulungan, Selasa (27/12/2022).
Hal tersebut disampaikan Zainal menghadiri Festival Kesultanan Bulungan sekaligus menerima hibah lahan seluas delapan hektare. Hibah tersebut, diperuntukkan guna pembangunan kembali Istana Kesultanan Bulungan dan Rumah Bertanduk.
Gubernur mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih kepada pewaris Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin yang telah menghibahkan lahannya untuk dikelola Pemprov Kaltara.
Gubernur Zainal bahkan meminta Ketua Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Kaltara, Bastian Lubis untuk menelusuri sejarah Panjang Kesultanan Bulungan hingga diabadikan menjadi kawasan di Batavia.
“Bulungan di sana itu bukan asal nama, ada sejarahnya, Ini harus kita telusuri Pak Bastian, harus ada kompensasi dari DKI Jakarta untuk turut membangun, merekonstruksi Kesultanan ini, melihat PAD-nya yang tinggi,” katanya.
Gubernur juga mengapresiasi gerak cepat Bupati Bulungan Syarwani yang telah merevitalisasi Rumah Bertanduk yang sebelumnya dalam kondisi memprihatinkan.
Dia harapkan ahli waris Kesultanan yang lain bisa mengikuti apa yang sudah dilakukan Yang Mulia Datu Dissan, sehingga kita bisa mendirikan kembali kejayaan Kesultanan Bulungan yang ada di Kaltara ini.
Pemprov berkomitmen membangun kembali Kesultanan Bulungan yang merupakan saksi sejarah panjang di utara Indonesia ini.
Pembangunan akan disesuaikan bentuk aslinya mengikuti dokumen, foto, bentuk bangunan Kesultanan Bulungan lampau.
“Kita akan desain ulang namun tidak meninggalkan bentuk asli Kesultanan Bulungan. Anggaran yang dibutuhkan untuk membangun sebesar Rp50 miliar dan tidak hanya bersumber dari APBD saja, namun juga dari APBN dan mudah-mudahan Ketua TGUPP juga bisa menerobos untuk mencari donatur dari kementerian terkait yang berhubungan dengan pembangunan istana ini,” kata Zainal.
Revitalisasi secara menyeluruh Komplek Keraton Kesultanan Bulungan ini sudah bisa dipergunakan pada tahun 2024.
“Kita mulai bangun 2023, sehingga tahun 2024 Insya Allah istana ini sudah kita bisa nikmati bersama,” kata Gubernur.
Sementara itu, Datu Dissan sebagai ahli waris Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin menyatakan hibah kepada Pemprov Kaltara ini merupakan bentuk sinergi.
“Dengan ikhlas hati menyerahkan kepada Pemerintah Provinsi, di belakang istana akan dibangun rumah tinggal dan gazebo untuk UMKM. Sebagai penunjang daripada istana agar hidup dan orang senang berkunjung kemari sebagai pusat informasi budaya Kaltara,” kata Datu Dissan. (fat)

