Jakarta (pilar.id) – Pfizer Indonesia mendorong perluasan akses terhadap inovasi kesehatan untuk menghadapi resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR), ancaman kesehatan global yang kerap disebut sebagai silent pandemic atau pandemi senyap. Persoalan ini dinilai semakin mendesak karena menyebabkan semakin banyak bakteri kebal terhadap antibiotik, sehingga membatasi pilihan terapi dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada pasien dengan kondisi kritis.
Dalam siaran pers yang diterima, Pfizer menyebut AMR telah menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 1,27 juta kematian secara langsung disebabkan oleh AMR pada 2019. Jika tidak ditangani secara efektif, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga 10 juta kematian per tahun pada 2050.
Di Indonesia, situasinya juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Global Research on Antimicrobial Resistance (GRAM), pada 2021 terdapat sekitar 36.500 kematian yang secara langsung disebabkan oleh resistensi antimikroba dan sekitar 147.000 kematian yang berkaitan dengan AMR. Kelompok lanjut usia menjadi salah satu populasi yang paling rentan terdampak.
Bakteri Resisten Semakin Membatasi Pilihan Terapi
Country Medical Lead Pfizer Indonesia, dr. Dicky Teguh Santoso, menjelaskan bahwa infeksi akibat bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik menjadi tantangan besar, khususnya di ruang perawatan intensif (ICU). Kondisi tersebut membuat pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas sehingga penanganan pasien menjadi lebih kompleks.
Temuan tersebut juga diperkuat melalui Pfizer ATLAS (Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance) yang menganalisis 245.326 isolat klinis dari rumah sakit di berbagai negara sepanjang 2020–2024.
Hasil surveilans menunjukkan sekitar 25,25 persen atau satu dari empat bakteri yang dianalisis telah masuk kategori multidrug-resistant (MDR), yaitu kebal terhadap beberapa kelompok antibiotik. Sementara 9,56 persen lainnya tergolong difficult-to-treat resistant (DTR) karena tidak lagi memberikan respons terhadap terapi antibiotik standar.
Pfizer juga mengidentifikasi sekitar 4.442 isolat klinis yang menghasilkan enzim metallo-beta-lactamase (MBL), yaitu enzim yang mampu merusak sebagian besar antibiotik golongan karbapenem yang selama ini menjadi andalan dalam menangani infeksi berat. Lebih dari 24 persen isolat tersebut berasal dari pasien yang menjalani perawatan di unit ICU.
Menurut dr. Dicky, kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya ketersediaan pilihan terapi baru untuk menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi, terutama bagi pasien dengan infeksi bakteri resisten yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Pfizer Dorong Inovasi dan Kolaborasi Hadapi AMR
Sebagai bagian dari upaya menghadapi resistensi antimikroba, Pfizer memperkenalkan pendekatan inovatif berupa kombinasi aztreonam dan avibactam yang dikembangkan untuk menangani infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik konvensional.
Kombinasi tersebut bekerja melalui dua mekanisme sekaligus. Aztreonam memiliki ketahanan alami terhadap enzim MBL, sedangkan avibactam berfungsi melindungi aztreonam dari enzim resistensi lainnya sehingga efektivitas terapi tetap terjaga. Inovasi tersebut telah memperoleh Nomor Izin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan dinilai sejalan dengan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba 2025–2029 yang disusun Kementerian Kesehatan bersama WHO.
Cluster President Malaysia, Indonesia, Singapore, Philippines (MISP) Cluster International Commercial Division Pfizer, Deborah P. Seifert, mengapresiasi dukungan BPOM dalam mempercepat proses evaluasi berbasis sains sehingga inovasi kesehatan dapat diakses sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa resistensi antimikroba merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang terus berkembang dan tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Karena itu, diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, regulator, industri farmasi, tenaga kesehatan, akademisi, hingga seluruh pemangku kepentingan.
Deborah menambahkan Pfizer berkomitmen mendukung sistem kesehatan Indonesia melalui kemitraan yang berfokus pada peningkatan akses terhadap inovasi berbasis bukti ilmiah. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar pasien memperoleh pilihan terapi yang tepat waktu sekaligus membantu mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan yang menghadapi ancaman resistensi antimikroba. (hdl)










